/> Keuchik Alue Kuta Jangka Bireuen, Tidak Bangun Opini Provokatif Soal Banjir

Keuchik Alue Kuta Jangka Bireuen, Tidak Bangun Opini Provokatif Soal Banjir

 

Hasbullah 

Bireuen , newsataloen.com - Keuchik Gampong Alue Kuta, Kecamatan Jangka, Kabupaten Bireuen, Habibullah, meminta seluruh pihak, termasuk para pejabat dan wakil rakyat, agar tidak membangun opini provokatif yang dapat memperkeruh suasana pascabencana banjir di Kabupaten Bireuen.

Menurut Habibullah, kondisi masyarakat korban banjir saat ini masih dalam tahap pemulihan dan sangat membutuhkan ketenangan serta bantuan nyata, bukan pernyataan-pernyataan yang justru menimbulkan kegaduhan di tengah masyarakat.

“Kami di gampong melihat langsung bagaimana pemerintah daerah bekerja, mulai dari pendataan hingga penyaluran bantuan. Jadi sangat tidak tepat kalau ada pihak yang menyampaikan seolah-olah pemerintah daerah tidak peduli atau tidak bekerja,” ujar Habiburahman, Selasa (6/1/2026).

Ia menegaskan bahwa Pemerintah Kabupaten Bireuen telah melakukan koordinasi berjenjang dengan camat dan para keuchik dalam menangani dampak banjir, termasuk penanganan hunian bagi korban terdampak.Terkait polemik Hunian Sementara (Huntara) dan Hunian Tetap (Huntap), Habiburahman menyebutkan bahwa mayoritas korban banjir di wilayahnya juga menginginkan pembangunan Huntap secara langsung.

“Keinginan masyarakat jelas, mereka ingin hunian yang permanen dan layak. Kalau dipaksakan Huntara yang lokasinya jauh dari gampong, besar kemungkinan tidak akan ditempati dan akhirnya mubazir,” jelasnya.

Selain itu, Habibullah menyampaikan bahwa kebijakan pemberian Dana Tunggu Hunian (DTH) sangat membantu masyarakat korban banjir dalam memenuhi kebutuhan hidup sementara waktu.

“DTH yang diterima masyarakat sangat membantu untuk bertahan sambil menunggu pembangunan hunian tetap. Ini bukti bahwa pemerintah hadir dan berpihak kepada korban,” katanya.

Habibullah juga mengajak seluruh pihak untuk mengedepankan koordinasi dan empati dalam menyikapi bencana, bukan saling menyalahkan atau membangun narasi yang berpotensi memecah belah masyarakat.

“Kalau ingin membantu, mari kita turun bersama, berkoordinasi dengan pemerintah daerah dan aparatur gampong. Masyarakat butuh solusi dan aksi nyata, bukan polemik,” pungkasnya. (rel/rizal jibro).

Post a Comment

Previous Post Next Post