/> Ketulusan di Balik Ketajaman Pikiran: Dr. Iswadi dalam Pandangan Dr. Maulizan

Ketulusan di Balik Ketajaman Pikiran: Dr. Iswadi dalam Pandangan Dr. Maulizan

Dr.Iswadi

Banda Aceh, newsataloen.com - Publik mengenal Dr. Iswadi sebagai akademisi dan intelektual yang kerap menyampaikan gagasan-gagasan kritis di ruang terbuka. Namun, bagi sahabatnya, Dr. Maulizan, ia bukan hanya sosok dengan reputasi dan gelar akademik, melainkan pribadi yang hangat serta setia menjaga nilai nilai persahabatan.

Sebagai sahabat dekatnya, Dr. Maulizan, Minggu ,(23/01) di Banda Aceh,melihat Dr. Iswadi sebagai figur sederhana yang menjadikan ilmu bukan sekadar alat untuk berdebat, tetapi sebagai jembatan yang menghubungkan hati dan pikiran. Dalam setiap diskusi, ia menunjukkan keluasan wawasan yang dibingkai dengan kerendahan hati. Ia tidak pernah merasa paling benar, melainkan terus menempatkan diri sebagai pembelajar. Di situlah keistimewaannya cerdas tanpa menjadi jumawa.

Dalam keseharian, ia tetap bersahaja. Kesibukan dan aktivitasnya di ruang publik tidak menjadikannya berjarak dengan sahabat sahabat lama. Ia masih meluangkan waktu untuk berbincang santai, berbagi cerita, dan tertawa bersama tanpa sekat formalitas. Baginya, persahabatan adalah ketulusan, bukan kepentingan.

Menurut Dr. Maulizan, keteguhan sahabatnya dalam memegang prinsip juga patut dihargai. Ia berani menyampaikan pandangan yang berbeda dari arus utama, namun tetap dengan bahasa yang santun dan penuh penghormatan terhadap perbedaan. Ia mengedepankan dialog, bukan emosi; argumentasi, bukan kebencian. Sikap inilah yang membuatnya dihormati, tidak hanya oleh kolega, tetapi juga oleh para sahabat.

Lebih dari segalanya, Dr. Iswadi adalah pendengar yang baik. Dalam situasi sulit, ia hadir sebagai teman yang memahami, bukan sebagai sosok yang menggurui. Empatinya tulus dan kehadirannya menenangkan.

Pada akhirnya, bagi Dr. Maulizan, persahabatan dengan Dr. Iswadi adalah bukti bahwa kecerdasan dan ketulusan dapat berjalan beriringan. Ia tetap membumi meski gagasannya melangit seorang intelektual di ruang publik dan sahabat sejati dalam kehidupan.(rizal jibro).

Post a Comment

Previous Post Next Post