![]() |
| Dr.Teuku Kemal Fasya,M.Hum |
Lhokseumawe, newsataloen.com – Pemikiran sosialisme Islam yang digagas oleh HOS Tjokroaminoto dan Ali Syari'ati kembali mencuat dan menjadi sorotan. Kedua pemikiran tokoh besar ini dikaji secara mendalam dalam acara bedah buku bertajuk "Pemikiran Sosialisme Islam HOS Tjokroaminoto dan Ali Syari'ati serta Kontekstualisasi Politik-Ekonomi Kebangsaan Kita".
Perspektif tersebut mengemuka dalam kegiatan bedah buku bertajuk Pemikiran Sosialisme Islam HOS Tjokroaminoto dan Ali Syari'ati serta Kontekstualisasi Politik-Ekonomi Kebangsaan Kita yang diselenggarakan Partai Keadilan Bangsa (PKB) Aceh Utara di Universitas Malikussaleh (Unimal), Lhokseumawe, Jumat (6/11/2026).
Kegiatan tersebut menghadirkan Dr. Teuku Kemal Fasya, M.Hum., akademisi, aktivis, sekaligus intelektual Aceh, yang membahas hubungan Islam, sosialisme, keadilan sosial, serta arah politik dan ekonomi kebangsaan Indonesia.
Tjokroaminoto, Tokoh Pergerakan dan Pemikir Sosialisme Islam
HOS Tjokroaminoto atau Raden Mas Haji Oemar Said Tjokroaminoto (1882–1934) dikenal sebagai salah satu tokoh penting pergerakan nasional Indonesia. Ia tidak hanya berperan membangun kesadaran kebangsaan, tetapi juga meletakkan dasar pemikiran politik, Islam, dan sosialisme dalam perjuangan rakyat.
Melalui Syarikat Islam (SI), Tjokroaminoto mengembangkan gerakan politik dan ekonomi sebagai instrumen perjuangan umat. Baginya, politik merupakan bagian penting dari tanggung jawab umat Islam dalam membangun kehidupan masyarakat yang lebih adil.
Pemikiran politiknya menjadikan Tjokroaminoto sebagai guru bagi sejumlah tokoh besar bangsa dengan ideologi berbeda, di antaranya Soekarno, Tan Malaka, Semaoen, Alimin, Muso, dan Kartosuwiryo.
Karya-karyanya seperti Islam dan Sosialisme (1924), Tafsir Program Asas dan Program Tandhim (1930), Tarich Agama Islam (1931), serta Reglemen Umum bagi Umat Islam (1934) menjadi bagian penting dari warisan pemikiran politik dan sosial Islam di Indonesia.
Sosialisme Islam Tidak Identik dengan Marxisme
Dalam pemikiran Tjokroaminoto, sosialisme tidak semata-mata identik dengan Marxisme. Ia melihat semangat persaudaraan, keadilan, dan pemerataan kesejahteraan telah lama menjadi bagian dari ajaran agama.
Sosialisme Islam menempatkan keadilan sosial sebagai tujuan utama tanpa harus menghapus kepemilikan pribadi maupun menindas kelompok pemilik modal.
Islam memberikan ruang bagi aktivitas ekonomi, perdagangan, dan kepemilikan harta, tetapi sekaligus menegaskan kewajiban sosial melalui zakat, infak, dan sedekah.
Prinsip tersebut berbeda dengan pendekatan Marxisme yang menitikberatkan perubahan struktur masyarakat melalui pertentangan kelas dan perjuangan proletariat.
Tjokroaminoto juga mengapresiasi sejumlah perkembangan gerakan revolusioner, termasuk perjuangan Lenin, tetapi menolak komunisme yang menindas agama dan memaksakan masyarakat ateistik.
Ali Syari'ati dan Islam sebagai Kekuatan Revolusioner
Selain Tjokroaminoto, pemikiran Ali Syari'ati menjadi bagian penting dalam pembahasan sosialisme Islam.
Ali Syari'ati (1933–1977), sosiolog dan pemikir revolusioner Iran, dikenal sebagai salah satu intelektual yang memberikan pengaruh besar terhadap perkembangan pemikiran revolusi Islam Iran.
Ia mengkritik Marxisme klasik yang terlalu menitikberatkan pertentangan kelas, sekaligus menolak pandangan yang menghilangkan agama dari kehidupan masyarakat.
Bagi Syari'ati, Islam dapat menjadi kekuatan revolusioner untuk membangun masyarakat yang bebas dari ketimpangan, penindasan, dan dominasi kekuasaan.
Pemikirannya juga memberikan perhatian terhadap persoalan pengangguran, kesenjangan pendapatan, akses pendidikan, keadilan upah, serta pentingnya partisipasi masyarakat dalam kehidupan politik.
Dalam konteks tersebut, sosialisme demokratis dipandang sebagai salah satu alternatif untuk membangun masyarakat yang lebih humanis dengan tetap mempertahankan kebebasan dan nilai-nilai keagamaan.
Gus Dur dan Sistem Politik Islam Iran
Pembahasan juga menyinggung sistem politik Islam Iran dan pemikiran Gus Dur mengenai hubungan agama, sosial, dan politik.
Gus Dur pernah memberikan perhatian terhadap konsep Wilayatul Faqih yang diterapkan di Iran, terutama dalam kaitannya dengan upaya menjadikan nilai-nilai Islam sebagai bagian dari sistem hukum dan kehidupan bernegara.
Pandangan Gus Dur menekankan bahwa Islam tidak dapat dipisahkan secara parsial antara ibadah, pendidikan, muamalah, siyasah, dan hubungan sosial. Seluruh dimensi tersebut harus terikat dalam nilai tauhid dan keadilan.
Pemikiran ini memperlihatkan bagaimana agama dapat berperan dalam membangun etika sosial sekaligus memberikan ruang bagi pengembangan pendidikan, inovasi, dan teknologi.
Kritik Ketimpangan dan Dominasi Oligarki
Dalam konteks Indonesia, pemikiran Tjokroaminoto dan Ali Syari'ati dinilai relevan untuk membaca arah politik dan ekonomi nasional.
Gagasan sosialisme religius, demokrasi ekonomi, serta keadilan sosial menjadi bahan refleksi terhadap praktik pembangunan yang masih menghadapi persoalan ketimpangan dan dominasi kepentingan oligarki.
Kritik terhadap kebijakan ekonomi nasional, termasuk program-program pemerintah dan pengelolaan kekayaan negara, menjadi bagian dari upaya mempertanyakan apakah pembangunan telah benar-benar berpihak kepada kepentingan rakyat.
Melalui bedah buku tersebut, pemikiran sosialisme Islam kembali dihadirkan sebagai perspektif untuk memahami hubungan agama, kekuasaan, ekonomi, dan perjuangan mewujudkan masyarakat yang lebih adil.
Pemikiran HOS Tjokroaminoto dan Ali Syari'ati menawarkan pesan penting bahwa keadilan sosial bukan sekadar cita-cita politik, melainkan tanggung jawab moral dan kemanusiaan yang harus diwujudkan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.***

إرسال تعليق