Aceh Utara, newsataloen.com — Langit Aceh Utara dihiasi puluhan layang-layang tradisional buatan tangan dalam rangka perayaan Milad ke-800 Kerajaan Samudera Pasai. Dinas Kepemudaan, Olahraga, Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Disporaparekraf) Kabupaten Aceh Utara sukses menggelar perlombaan permainan rakyat berskala besar, menampilkan dua olahraga tradisional andalan, yakni Layang Tunang dan Ek Geunteut (egrang).
Kompetisi ini diikuti oleh perwakilan dari seluruh kecamatan di Aceh Utara berlangsung pada Rabu (9/9/2026). Pada kategori Layang Tunang umum, tercatat ada 27 peserta yang bertanding. Sementara untuk kategori pelajar (SMP/SMA maksimal usia 19 tahun), antusiasme melonjak hingga 50 peserta.
Berikut adalah daftar lengkap Pemenang Lomba Layang Tunang untuk Juara 1, 2 dan 3 masing-masing diraih Fajar (Kecamatan Syamtalira Aron), Ari Maulana (Kecamatan Syamtalira Bayu) dan Said Iqramullah (Kecamatan Dewantara)
Sedangkan pemenang Lomba Ek Geunteut (Egrang) yang menguji kecepatan dan keseimbangan di atas pijakan tinggi ini berlangsung sengit ini, juara 1, 2 dan 3 masing-masing dimenangkan Muhammad Ikbar (SMAN 2 Sawang) Ahmad Rafi Akbar (SMAN 1 Lhoksukon) dan Fajar Ramadhan (SMAN 1 Dewantara)
Kepala Disporaparekraf Aceh Utara, Zulkifli,S.Ag,.M.Pd Kepala Bidang Olahraga, Zulfikar,S.Pd,.MT, menyatakan kegembiraannya atas partisipasi aktif masyarakat.
"Perlombaan ini diikuti perwakilan dari setiap kecamatan di Aceh Utara. Ini menjadi bukti nyata bahwa permainan tradisional masih sangat dicintai dan hidup subur di tengah masyarakat kita," ujar Zulfikar.
Prestasi tingkat pelajar ini juga mendapat respons positif dari dunia pendidikan. Kepala SMAN 1 Dewantara, Jalaluddin, S.Pd., mengungkapkan rasa bangganya atas pencapaian Fajar Ramadhan yang meraih Juara 3 Ek Geunteut.
"Keberhasilan Fajar membuktikan bahwa ruang belajar siswa tidak terbatas di dalam kelas saja. Potensi besar bisa muncul dari kegiatan non-akademik. Sekolah berkomitmen penuh untuk terus mendukung siswa yang memiliki minat dan bakat agar bisa berprestasi," tegas Jalaluddin.
Melalui momentum perayaan delapan abad Samudera Pasai ini, sejarah tidak hanya dikenang lewat forum ilmiah dan seminar, tetapi juga dirayakan lewat kegembiraan rakyat. Disporaparekraf Aceh Utara berharap ajang seperti ini mampu menjaga eksistensi permainan masa kecil agar tetap diwarisi dan dicintai oleh generasi mendatang. Sejarah tidak sekadar diingat, tetapi juga dimainkan dan dirasakan langsung esensinya. (tim/red)


Post a Comment