/> Merawat Warisan 800 Tahun Samudera Pasai Lewat Kelezatan Kuliner Tradisional Aceh Utara

Merawat Warisan 800 Tahun Samudera Pasai Lewat Kelezatan Kuliner Tradisional Aceh Utara




Aceh Utara, newsataloen.com — Kuliner tradisional bukan sekadar pengisi perut. Makanan lawas adalah mesin waktu yang merawat cerita, budaya, dan kejayaan masa lalu. Di Aceh Utara, semangat menjaga peradaban tersebut hidup kuat melalui dedikasi dua pelaku UMKM perempuan, yaitu Ibu Musyidah dari Desa Meucat dan Ibu Zulyani dari Desa Peunayan.

Sejak tahun 1990, kedua perempuan tangguh ini konsisten memproduksi aneka kue khas tanah Pasai. Mulai dari kue semprong, bolu tradisional, halua, hingga kue bhoi. Ragam penganan ini bukan camilan biasa, melainkan perwujudan cita rasa asli peninggalan era keemasan Kerajaan Samudera Pasai yang kini telah berusia 800 tahun.

Di tengah gempuran makanan modern serba instan, Ibu Musyidah dan Ibu Zulyani memilih untuk tetap setia pada resep leluhur. Bagi mereka, proses menepung beras, meracik gula, dan memanggang kue secara tradisional merupakan sebuah kehormatan. Dedikasi yang terjaga selama lebih dari 30 tahun ini terbukti membuahkan hasil manis.

Kuliner adat buatan mereka sukses memikat hati para pencinta sejarah dan masyarakat luas. Salah satu momen pembuktiannya terjadi saat produk mereka tampil dan mendapat sambutan hangat di stan Expo Milad 800 Tahun Samudera Pasai di Aceh Utara.

Hingga saat ini, kedua perempuan tersebut masih mempertahankan sistem penjualan klasik yang personal. Konsumen dan pelanggan setia dapat memesan langsung dengan mengunjungi rumah produksi mereka di desa masing-masing. Langkah konvensional ini justru menjadi benteng pertahanan terbaik dalam menjaga keaslian rasa kuliner Pasai agar tetap autentik.

"Kuliner tradisional ini adalah identitas kita. Jika bukan kita yang menjaganya, anak cucu kita hanya akan mendengar namanya tanpa pernah tahu rasanya," ujar mereka penuh harap.

Kisah Ibu Musyidah dan Ibu Zulyani menjadi bukti nyata bahwa di balik kelezatan sepotong kue semprong atau manisnya halua, ada sejarah besar yang terus dirawat agar tidak hilang ditelan waktu. (tim/red). 

Post a Comment

Previous Post Next Post