Aceh Utara, newsataloen.com – Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK) Kabupaten Aceh Utara mengajak seluruh warga sekolah, terutama siswa baru, untuk memperkuat komitmen dalam menjaga kelestarian lingkungan. Langkah strategis ini sangat krusial mengingat SMA Negeri 1 Lhoksukon tengah bersiap melangkah menuju calon Sekolah Adiwiyata Mandiri (Level 4) pada tahun 2026.
Pesan edukatif tersebut disampaikan langsung oleh Pejabat Pengawas Lingkungan Hidup DLHK Aceh Utara, Syamsul Rizal, saat menjadi pemateri dalam kegiatan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) di SMAN 1 Lhoksukon, Jumat (17/7/2026).
Syamsul menilai momentum MPLS bagi siswa baru memiliki nilai yang sangat strategis. Generasi muda ini berpotensi besar menjadi agen perubahan dalam membentuk perilaku ramah lingkungan. Di sisi lain, mereka juga bisa menjadi tantangan tersendiri jika tidak menyelaraskan diri dengan status SMAN 1 Lhoksukon yang saat ini telah menyandang predikat Adiwiyata Nasional (Level 3).
"Pendidikan lingkungan hidup bukan sekadar teori di dalam kelas melalui mata pelajaran atau modul ajar. Ini adalah aksi nyata yang membentuk karakter," tegas Syamsul Rizal.
Guna menyukseskan program Adiwiyata Mandiri, Syamsul menekankan pentingnya konsistensi seluruh warga sekolah dalam menerapkan lima aspek lingkungan berikut: Pertama, Sanitasi dan Kebersihan: Menjaga kebersihan diri serta seluruh fasilitas sekolah secara berkala. Kedua, Pengelolaan Sampah: Meminimalkan produksi sampah, memilah jenisnya, dan aktif mendaur ulang.
Ketiga, Keanekaragaman Hayati (KEHATI): Menanam, merawat pohon, serta memahami siklus flora dan fauna. Keempat, Konservasi Energi: Menghemat penggunaan energi listrik secara bijak dan efisien. Kelima, Konservasi Air: Menggunakan air secukupnya dan menjaga kelestarian sumber air.
Kelima aspek tersebut wajib diterapkan secara berkelanjutan, baik di dalam lingkungan sekolah maupun di wilayah sekitar tempat tinggal masing-masing.
Dalam pemaparannya, Syamsul juga meluruskan persepsi keliru yang sering beredar di masyarakat mengenai Adiwiyata. Ia menegaskan bahwa Adiwiyata bukanlah sebuah ajang perlombaan, melainkan bentuk penghargaan tertinggi dari pemerintah bagi sekolah yang dinilai berhasil memenuhi kriteria pelestarian lingkungan.
"Banyak sekolah mengeluh Adiwiyata itu mahal dan susah. Itu terjadi kalau sistemnya 'kebut semalam' atau SKS. Namun, jika aksinya didasari hati yang ikhlas dan sudah menjadi karakter, semua tidak akan terasa melelahkan. Target kita bukan sekadar piagam, tapi membangun budaya," pungkasnya.
Kepala SMAN 1 Lhoksukon, Zulkifli, M.Pd., menjelaskan bahwa pihaknya berkolaborasi dengan Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK) Aceh Utara serta Polres Aceh Utara.
Hadir langsung dalam kegiatan tersebut Kanit Kamsel Satlantas Polres Aceh Utara, Aipda Agusmawan, yang memberikan edukasi penting mengenai tertib berlalu lintas di jalan raya.
Selain kesadaran hukum dan lingkungan, para siswa baru juga dibekali dengan materi kesehatan remaja serta panduan pola hidup sehat.
Tidak hanya mengandalkan pemateri dari luar, SMAN 1 Lhoksukon juga memaksimalkan potensi internal mereka. Peran dewan guru dan tim Bimbingan Konseling (BK) dioptimalkan secara penuh.
Keterlibatan tim BK ini difokuskan untuk mendampingi masa adaptasi psikologis siswa. Dengan begitu, mental siswa baru menjadi lebih siap menghadapi lingkungan belajar yang berbeda dari jenjang sebelumnya.
Zulkifli berharap, padatnya rangkaian agenda edukatif ini mampu mematangkan kesiapan mental sekaligus performa akademis para siswa.
"Harapan kami, setelah mengikuti MPLS dan materi penguatan literasi-numerasi ini, seluruh siswa benar-benar siap menyukseskan serta mengikuti pembelajaran, baik di dalam maupun di luar kelas," pungkas Zulkifli kepada media. (tim/red)

إرسال تعليق