/> Tiket Pesawat Mencekik Leher, Harga “Sadis” Harus Dihentikan

Tiket Pesawat Mencekik Leher, Harga “Sadis” Harus Dihentikan

 


Banda Aceh, newsataloen.com – Harga tiket pesawat dari Aceh kembali memantik kegelisahan publik. Lonjakan tarif yang kian tak terkendali menjelang akhir Maret bukan hanya memberatkan, tetapi telah berubah menjadi tekanan nyata bagi masyarakat yang bergantung pada transportasi udara.

Seorang calon penumpang, Moechtar (49), merasakan langsung betapa sulitnya mendapatkan tiket untuk keberangkatan 27 Maret dari Bandara Sultan Iskandar Muda menuju Bandar Udara Internasional Soekarno-Hatta.

“Dari Banda Aceh sudah penuh. Kalaupun ada, harganya sangat mahal, di luar kemampuan masyarakat biasa,” ujarnya lirih.Harapan untuk mendapatkan harga lebih terjangkau pupus saat ia mencoba rute alternatif melalui Bandara Internasional Kualanamu. Alih-alih lebih murah, tarif justru melonjak hingga kisaran Rp10 juta.

“Via Kualanamu malah tembus sampai Rp10 jutaan. Ini sungguh sadis. Seolah-olah penderitaan masyarakat dijadikan peluang,” katanya.Harga tersebut, lanjut Moechtar, ia temukan melalui pencarian di sejumlah aplikasi pemesanan tiket online. Angka-angka yang terpampang di layar bukan sekadar nominal, melainkan cerminan betapa jauhnya akses transportasi udara dari jangkauan rakyat. 

Fenomena ini bukan sekadar keluhan personal. Penelusuran di berbagai platform perjalanan daring menunjukkan harga tiket rute Aceh–Jakarta pada periode tertentu memang melonjak drastis, bahkan pernah berada di kisaran Rp7 juta hingga Rp10 juta, terutama saat permintaan meningkat.

Pemerintah melalui Kementerian Perhubungan Republik Indonesia sebenarnya telah mengakui kondisi ini. Dalam berbagai penjelasan, disebutkan bahwa mahalnya tiket dipengaruhi keterbatasan penerbangan langsung, tingginya permintaan, serta faktor operasional seperti bahan bakar dan jumlah armada. Sistem tarif batas atas pun disebut masih menjadi acuan.

Namun, realitas di lapangan menunjukkan bahwa regulasi belum sepenuhnya menghadirkan keadilan. Harga tetap melambung, pilihan terbatas, dan masyarakat menjadi pihak yang paling terdampak.

Aceh, yang secara geografis berada di ujung barat Indonesia, seolah menghadapi beban ganda: keterbatasan akses dan mahalnya biaya. Ketika harga tiket tak lagi rasional, mobilitas terhambat, ekonomi melambat, dan rasa keterhubungan dengan pusat negeri perlahan tergerus.

Situasi ini membutuhkan lebih dari sekadar penjelasan—ia menuntut keberanian untuk bertindak. Pemerintah pusat diharapkan tidak hanya mengatur di atas kertas, tetapi benar-benar hadir menata ulang sistem agar berpihak pada rakyat. Penambahan penerbangan, penguatan pengawasan, hingga keberpihakan kebijakan menjadi langkah yang tak bisa lagi ditunda.

Sebab jika kondisi ini terus dibiarkan, langit Indonesia hanya akan menjadi ruang bagi mereka yang mampu membayar mahal, sementara rakyat kecil kembali dipaksa menunduk di darat.

“Kalau begini terus, terbang bukan lagi kebutuhan, tapi jadi kemewahan,” tutup Moechtar. (DHL/RJ).

Post a Comment

أحدث أقدم