![]() |
| Dr.Iswadi |
Jakarta, newsataloen.com - Dr. Iswadi adalah sosok yang memandang ilmu sebagai kekuatan transformatif. Baginya, ilmu bukan sekadar akumulasi pengetahuan, melainkan energi perubahan yang mampu mengangkat martabat manusia. Sejak awal perjalanan akademiknya, ia telah menempatkan belajar sebagai panggilan jiwa. Ketekunannya dalam menimba ilmu bukan didorong oleh ambisi pribadi semata, tetapi oleh kesadaran bahwa pengetahuan adalah fondasi utama dalam membangun masyarakat yang beradab.
Sebagai pejuang ilmu, Dr. Iswadi menapaki jalur pendidikan dengan penuh dedikasi. Ia memahami bahwa proses belajar bukanlah perjalanan yang instan. Dibutuhkan kesabaran, kedisiplinan, dan keteguhan hati untuk terus bertumbuh. Dalam setiap fase kehidupan akademiknya, ia menunjukkan komitmen yang konsisten terhadap pengembangan diri. Ia percaya bahwa seorang pendidik harus selalu menjadi pembelajar, karena dari situlah lahir keteladanan.
Di ruang-ruang kelas, Dr. Iswadi dikenal sebagai figur yang tidak hanya menyampaikan materi, tetapi juga membangun kesadaran. Ia memandang pendidikan sebagai proses dialogis, bukan monolog satu arah. Mahasiswa diajak untuk berpikir kritis, menggali makna, dan mengaitkan teori dengan realitas kehidupan. Baginya, keberhasilan pendidikan bukan terletak pada seberapa banyak materi yang disampaikan, melainkan pada seberapa dalam pemahaman yang tumbuh.
Komitmen Dr. Iswadi terhadap pendidikan yang membebaskan tercermin dalam pendekatannya yang humanis. Ia menolak praktik pendidikan yang kaku dan mengekang kreativitas. Menurutnya, setiap individu memiliki potensi unik yang perlu dirawat dan dikembangkan. Pendidikan seharusnya menjadi ruang aman untuk berekspresi, bertanya, bahkan berbeda pendapat. Kebebasan berpikir adalah fondasi lahirnya inovasi dan kemajuan.
Sebagai penggerak pendidikan, Dr. Iswadi tidak membatasi perannya pada institusi formal. Ia aktif terlibat dalam berbagai kegiatan sosial, seminar, dan diskusi publik. Ia percaya bahwa ilmu harus hadir di tengah masyarakat dan memberi dampak nyata. Pendidikan yang membebaskan, menurutnya, adalah pendidikan yang menjangkau semua kalangan tanpa diskriminasi. Akses terhadap pengetahuan harus terbuka luas, karena setiap orang berhak untuk berkembang.
Dalam pandangannya, tantangan pendidikan di era modern semakin kompleks. Perkembangan teknologi membawa peluang sekaligus risiko. Informasi yang melimpah dapat menjadi sumber pencerahan, tetapi juga dapat menyesatkan jika tidak disertai kemampuan literasi yang memadai. Oleh karena itu, Dr. Iswadi menekankan pentingnya membangun budaya literasi dan daya kritis. Peserta didik perlu dibekali kemampuan untuk memilah informasi, menganalisisnya secara objektif, dan mengambil keputusan dengan bijaksana.
Nilai-nilai integritas dan tanggung jawab sosial juga menjadi bagian penting dari perjuangannya. Ia meyakini bahwa kecerdasan intelektual harus berjalan seiring dengan kematangan moral. Pendidikan yang membebaskan bukan berarti tanpa batas, melainkan kebebasan yang disertai kesadaran etis. Dengan demikian, lahirlah generasi yang tidak hanya cerdas, tetapi juga peduli terhadap lingkungan sosialnya.
Dalam interaksi sehari-hari, Dr. Iswadi menunjukkan sikap rendah hati dan keterbukaan. Ia menghargai perbedaan pandangan dan menjadikannya sebagai bahan refleksi bersama. Sikap ini mencerminkan keyakinannya bahwa ilmu berkembang melalui dialog dan kolaborasi. Tidak ada kebenaran yang tumbuh dalam ruang tertutup. Oleh karena itu, ia senantiasa mendorong terciptanya komunitas belajar yang inklusif dan saling mendukung.
Perjalanan Dr. Iswadi sebagai pejuang ilmu adalah cerminan dari konsistensi dan komitmen jangka panjang. Ia memahami bahwa perubahan tidak terjadi secara instan. Dibutuhkan kerja keras, kesabaran, dan keteladanan untuk menggerakkan transformasi pendidikan. Namun, ia tetap optimis bahwa melalui pendidikan yang membebaskan, masa depan yang lebih adil dan bermartabat dapat diwujudkan.(rizal jibro).

Post a Comment