/> Bocah SD di NTT Tewas Bunuh Diri, Dr. Iswadi: Akses Pendidikan Kita Masih Menyedihkan

Bocah SD di NTT Tewas Bunuh Diri, Dr. Iswadi: Akses Pendidikan Kita Masih Menyedihkan

 


Jakarta, newsataloen.com - Tragedi memilukan kembali mengguncang nurani publik. Seorang bocah sekolah dasar (SD) di Nusa Tenggara Timur (NTT) ditemukan meninggal dunia akibat bunuh diri. Kepergiannya bukan hanya meninggalkan duka mendalam bagi keluarga, tetapi juga sepucuk surat sederhana yang ditujukan kepada sang ibu sebuah pesan terakhir yang mengguncang siapa pun yang membacanya.

Peristiwa ini menyentak perhatian masyarakat luas karena melibatkan seorang anak yang seharusnya masih berada dalam fase bermain, belajar, dan bermimpi. Di usia yang begitu belia, ia justru menghadapi beban hidup yang tak semestinya ditanggung seorang anak. Surat yang ditinggalkannya menggambarkan kegelisahan, kelelahan batin, serta rasa putus asa yang diam-diam dipendam, diduga berkaitan dengan kesulitan bersekolah dan keterbatasan akses pendidikan.

Keluarga korban tak mampu menyembunyikan kesedihan. Sang ibu, yang menjadi tujuan surat terakhir anaknya, terpukul oleh kepergian tersebut. Bagi keluarga sederhana itu, pendidikan selama ini dipandang sebagai jalan keluar dari kemiskinan struktural yang mereka hadapi. Namun realitas di lapangan berkata lain. Jarak sekolah yang jauh, keterbatasan sarana transportasi, kondisi ekonomi keluarga, serta minimnya fasilitas pendidikan menjadi tantangan harian yang tak mudah diatasi.

Kasus ini memantik reaksi dari berbagai kalangan, termasuk akademisi dan pemerhati pendidikan. Dr. Iswadi, salah satu tokoh yang vokal menyoroti isu pendidikan, menyampaikan keprihatinan mendalam atas peristiwa tersebut. Menurutnya, tragedi ini bukan sekadar persoalan individu atau keluarga, melainkan cermin kegagalan sistemik dalam menjamin hak dasar anak untuk memperoleh pendidikan yang layak.

Ini sangat menyedihkan. Di tengah berbagai klaim kemajuan, masih ada anak anak di negeri ini yang merasa pendidikan adalah beban yang mustahil dijangkau. Akses pendidikan kita, terutama di daerah tertinggal, masih sangat memprihatinkan, ujar Dr. Iswadi.

Ia menekankan bahwa pendidikan bukan hanya soal ketersediaan sekolah, tetapi juga tentang akses nyata: jarak tempuh yang manusiawi, biaya yang terjangkau, dukungan psikososial, serta lingkungan belajar yang aman dan inklusif. Ketika faktor-faktor tersebut absen, anak anak terutama yang berasal dari keluarga miskin menjadi kelompok paling rentan.

NTT sendiri selama ini dikenal sebagai salah satu provinsi dengan tantangan pendidikan yang kompleks. Kondisi geografis yang sulit, infrastruktur terbatas, kekurangan tenaga pendidik, serta kesenjangan ekonomi memperparah keadaan. Dalam situasi seperti ini, anak-anak kerap dipaksa beradaptasi dengan realitas keras yang melampaui kapasitas emosional mereka.

Dr. Iswadi juga mengingatkan bahwa anak anak sering kali tidak memiliki ruang aman untuk menyuarakan tekanan yang mereka alami. Ketika kegelisahan dipendam tanpa pendampingan yang memadai baik dari keluarga, sekolah, maupun negara risikonya bisa berujung fatal. Anak anak membutuhkan lebih dari sekadar kurikulum. Mereka butuh didengar, dipahami, dan dilindungi, tegasnya.

Tragedi ini seharusnya menjadi alarm keras bagi semua pihak. Pemerintah pusat dan daerah didesak untuk tidak sekadar mengejar angka partisipasi sekolah, tetapi memastikan kualitas dan keterjangkauan pendidikan benar benar dirasakan hingga ke pelosok. Program bantuan pendidikan, transportasi sekolah, penguatan peran guru, serta layanan konseling di sekolah dasar menjadi kebutuhan mendesak, bukan pilihan.

Lebih dari itu, masyarakat juga diajak untuk membangun kepekaan kolektif. Anak anak di sekitar kita mungkin menyimpan beban yang tak terlihat. Kepedulian sederhana bertanya, mendengar, dan menemani bisa menjadi penopang penting bagi kesehatan mental mereka.(rel/rizal jibro).

Post a Comment

Previous Post Next Post