-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Terendus, Kinerja Bakri Siddiq Terindikasi Ada Di Bawah Kendali Pj Walikota Bayangan

Jumat, November 18, 2022 | November 18, 2022 WIB | 0 Views Last Updated 2022-11-18T12:08:45Z




Ariyanda ramadhan




Banda Aceh, newsataloen.com - - Jika dilirik lebih jauh tentang perjalanan kepemimpinan Bakri Siddiq yang kini hampir 5(lima) bulan menjabat sebagai Pj Walikota Banda Aceh, salah satu fenomena yang hampir menjadi rahasia umum di tubuh pemerintahan hingga berbagai elemen masyarakat adalah tentang terendusnya keberadaan Penjabat Walikota bayangan yang memiliki peran sebagai sebagai penentu utama dalam lajunya pemerintahan Bakri Siddiq.

"Tercium adanya indikasi peran besar yang dimainkan oleh seorang Pj Walikota bayangan sudah bukan hal asing di tubuh pemkot dan berbagai elemen masyarakat, dimana mulai urusan anggaran, proyek hingga pengisian jabatan dan posisi di pemerintahan serta berbagai kebijakan lainnya termasuk hingga hal terkecil di pemerintahan kota sangat ditentukan oleh sosok tersebut. Sehingga dapat dikatakan keberadaan Bakri Siddiq sebagai Pj Walikota yang ditunjuk mendagri tak lebih untuk formalitas saja untuk menghadiri kegiatan seremonial, kata sambutan atau gunting pita saja, sementara keputusan sesungguhnya dikendalikan oleh sosok yang membayangi tersebut, bahkan dikhabarkan pejabat daerah pun harus mampu menyenangkan hati sosok bayangan. Memang terkesan tragis, namun apa hendak dikata hal inilah yang sejak lama sudah tercium adanya," ungkap ketua Suara Independen Mahasiswa Kota (SIMAK) Arianda Ramadhan, Jum'at 18 November 2022.



SIMAK menilai, kehadiran pemimpin bayangan ini selain tidak memberikan kontribusi positif apa pun bagi kemajuan pembangunan daerah,  justeru berpotensi memicu konflik politik hingga mengganggu stabilitas sosial masyarakat, bahkan lebih buruknya potensi terjadinya praktik korupsi juga berkemungkinan.

"Mungkin salah satu penyebab semakin bergentayangannya pemimpin bayangan ini dikarenakan kepemimpina sang Pj Walikota yang terus berbulan madu dengan pola kepemimpinan yang lemah dan tanpa arah ini, ditambah lagi dengan kurangnya pemahaman akan kondisi daerah dikarenakan lama bertugas di luar. Sehingga membuat hal yang ingin diputuskan oleh Pj Walikota haruslah mendapat persetujuan pemimpin bayangan ini, jika tidak maka apapun yang menjadi keputusan orang nomor satu di Banda Aceh itu tak lebih dari angin lewat belaka," ujar Arianda.

Menurut hemat SIMAK, beberapa penyebab begitu kuat dan mendominasinya pemimpin bayangan tersebut diantaranya karena karena ketidaktegasan dan ketidakmampuan Bakri Siddiq (pemimpin utama) menjalankan tata kelola pemerintahan.

Kedua, karena pemimpin utama merasa terlalu sulit melepaskan ketergantungannya karena hubungan tertentu.

Ketiga, karena secara personal Bakri Siddiq memang tak memiliki kemampuan dan arah yang jelas dalam kepemimpinannya di Banda Aceh dikarenakan pemahamannya yang relatif kurang tentang situasi dan kondisi daerah, ditambah jika tak elok dibilang tak tak punya visi dan misi, dikarenakan bahkan tak mampu mendeteksi persoalan masyarakat tapi hanya mampu melakukan aksi simbolis setelah heboh dipertanyakan publik. Pun demikian, setelah aksi simbolis itu berlanjut atau tidaknya sangat bergantung pada pemimpin bayangan. Alhasil, apapun yang dilakukan selama ini tak lebih dari sebatas pencitraan dan belum terlihat ada yang ril untuk daerah dan rakyat Banda Aceh.

Hal yang lebih miris lagi, katanya, Pj walkot bayangan ini jauh lebih ditakuti dan mesti dituruti ketimbang pj Walikota asli yang ditunjuk secara resmi dari Mendagri. 

" Sebagai masyarakat, kita tentunya perlu mengawasi pemerintahan agar kepemimpinan di Banda Aceh tidak terlalu offside dikendalikan oleh pemimpin bayangan, hingga nantinya laju pemerintahan semakin dilema dan rakyat semakin lama makin tertekan oleh imbasnya," jelasnya.


Menurutnya, menjadi pemimpin daerah  memang tidak cukup sekedar mahir administrasi dan perencanaan belaka seperti halnya seorang kepala Bappeda atau dinas yang hanya mampu menguasai ruangnya dan terus menerus fokus pada setumpuk urusan administrasi belaka.

Ada faktor lain yang diperlukan agar menjadi pemimpin baik di Aceh. Misal, mempelajari berbagai ketrampilan kepemimpinan dari banyak referensi atau pengalaman lapangan.

Karena itu, boleh boleh saja dan wajar hadirnya pemimpin bayangan dalam satu kepemimpinan formal (utama). 

Walau demikian, kepemimpinan akan lebih efektif dan efisien bila datangnya langsung dari pemimpin yang kasat mata, bukan dari pemimpin bayangan seperti hantu itu. Dan tentunya pemimpin bayangan yang offside dan over juga akan berimbas kepada kebijakan atau pola kepemimpinan sah yang ada.

"Pemimpin bayang ini ibarat kentut. Terasa ada, tapi terkata tidak, namun aromanya tercium merebak. Begitulah yang dirasakan rakyat Banda Aceh serta jajaran birokrasi (ASN/PNS) di tubuh Pemerintah Kota Banda Aceh. Untuk itu sebagai masyarakat kita harus selalu mengingatkan pemimpin utama yang sah agar tak terus-menerus terombang ambing lamunan dan lupa dengan tugas-tugas yang semestinya dilakukan,"tegasnya.
×
Berita Terbaru Update