Aceh Utara, newsataloen.com — Bunyi ketukan kipah dari rombongan Tangkulok Pasee, meuhidupkan malam di kediaman Pimpinan Redaksi Tribunpase.id, Muhammad Fadli (Fadly PB), di Gampong Mee Matang Panyang, Kecamatan Tanah Pasir, Sabtu malam, 12 September 2026.
Hamparan rumput di halaman rumah tuan rumah berubah menjadi panggung kenangan. Bunyi ritmis ketukan pelepah pinang saling bersahutan, memecah keheningan malam dalam suasana Kenduri Maulid Nabi Muhammad SAW.
Di tengah panggung, Yusran Yus, pemimpin rombongan Tangkulok Pasee, tampil memimpin anak-anak mudanya dengan penuh penghayatan. Beliau orang asli Tanah Pasir yang kini bermukim di Gampong Dayah Meuria, Syamtalira Aron.
Di sela-sela pertunjukan, Yusran menyampaikan dengan suara yang tergetar: “Di kampung inilah sebetulnya lahirnya seni Poh Kipah bagi ulôn. Di tanah Matang Panyang inilah ulôn pertama kali berguru pada tahun 2002, di tengah masa-masa sulit konflik. Yang duduk di hadapan kita ini, sebagian besar adalah guru-guru ulôn masa itu.”
Bagi Yusran, pulang ke kampung halaman bukan sekadar memenuhi undangan. Ilmu yang dipelajari dua puluh tahun silam, kini beliau rawat dan turunkan kepada generasi muda agar seni khas Pasee ini tidak hilang digilas zaman.
Upaya pelestarian ini mendapat dukungan penuh dari Tribunpase.id yang menjadi penanggung jawab utama rombongan Tangkulok Pasee. Tuan rumah, Fadly PB, sengaja membuka ruang bagi kesenian daerah tampil di muka umum, sebagai bukti dukungan insan pers menjaga warisan budaya Pasee.
Malam itu bukan hanya diisi pertunjukan seni. Sejak siang, kediaman Fadly PB dikunjungi berbagai kalangan: pejabat daerah, aparat keamanan, hingga tokoh masyarakat. Hadir di antaranya Kadis Pendidikan dan Kebudayaan Aceh Utara Jamaluddin, Kadis PUPR Ir. Jaffar, Camat Paya Bakong Muhammad Noval, serta Danki Brimob Satbrimob Polda Aceh AKP Syaifullah S.
Suasana kebersamaan lintas golongan itu diperkuat oleh hangatnya kenduri maulid dan pesonanya seni Poh Kipah. Halaman rumah itu menjadi gambaran nyata: pers yang memeluk tradisi, pemimpin yang membaur, dan masyarakat yang bersatu.
Ketika bunyi ketukan terakhir selesai bergema, yang tertinggal bukan sekadar piring kenduri yang sudah bersih, melainkan janji bersama: terus menjaga persatuan dan membesarkan warisan budaya di tanah Pasee tercinta. ***

إرسال تعليق