Aceh Utara, newsataloen.com – Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) berkomitmen penuh mempercepat pemulihan sektor perikanan di wilayah Aceh yang terdampak bencana geometeorologis. Langkah konkret ini diwujudkan dengan menyalurkan bantuan besar berupa 8 unit ekskavator serta ribuan alat perikanan.
Penyerahan bantuan berlangsung di halaman Kantor Bupati Aceh Utara pada Kamis (6/8/2026). Sinergi ini melibatkan Satgas Percepatan Rehabilitasi, Pemerintah Provinsi Aceh, serta jajaran pemerintah kabupaten/kota setempat.
Direktur Sarana dan Prasarana Ditjen Perikanan Budidaya (DJPB) KKP, Enggar Sadtopo, menyatakan bahwa pemulihan difokuskan pada tiga sektor utama: lahan budidaya, peralatan tangkap, dan sarana pengolahan hasil laut.
"Tahun ini kami menargetkan 15.000 hektar lahan tambak di seluruh Aceh pulih lewat penyediaan benih dan pakan. Bantuan 8 ekskavator dikerahkan untuk mempercepat pengerukan saluran air dan tambak yang tertimbun lumpur," ujar Enggar.
Selain alat berat, KKP juga menggelontorkan armada pendukung ekonomi nelayan, antara lain 20 unit mesin kapal, 155 unit alat penangkapan ikan, 13 paket alat pengolah perikanan & 43 unit cool box (Kabupaten Aceh Utara), 7 paket alat pengolah ikan & 14 unit cool box (Kota Lhokseumawe)
Enggar menekankan, keberhasilan pemulihan ekonomi pesisir ini sangat bergantung pada kolaborasi erat lintas sektor. Ia juga mengapresiasi dukungan penuh dari Komisi IV DPR RI dalam mengawal percepatan di lapangan.
Wakil Bupati Aceh Utara, Tarmizi, menyampaikan apresiasi mendalam atas bantuan yang disalurkan kepada dua kelompok lokal, yaitu Muarabatu dan Samudra. Bantuan mesin keong dan sarana produksi tersebut diharapkan langsung mendongkrak ekonomi warga.
Meski demikian, Tarmizi memberikan catatan evaluasi kritis mengenai kondisi lapangan pasca-banjir bandang susulan yang terjadi sepekan lalu.
"Aceh Utara masih sangat membutuhkan tambahan armada ekskavator. Beberapa wilayah seperti Sawang dan Langkahan akses jalannya rusak parah tergerus banjir, sehingga warga terpaksa melintasi jalanan berbatu," tegas Tarmizi.
Pihaknya mengaku terus melakukan koordinasi intensif dengan Sekda dan Badan Penanggulangan Aceh (BPA) guna mendesak percepatan perbaikan infrastruktur jalan tersebut.
Di sisi lain, Tarmizi membawa kabar baik terkait konektivitas regional. Jalur krusial pesisir di kawasan Kuta Blang Bireuen, Bayu kabupaten Aceh Utara —yang kerap dijuluki warga sebagai "Selat Hormuz"—dipastikan telah selesai diperbaiki.
Jalur vital ini dijadwalkan akan resmi dibuka untuk umum pada 17 Agustus 2026, bertepatan dengan Hari Kemerdekaan RI.
Akses baru ini diklaim menjadi pencapaian besar karena mampu memangkas waktu tempuh perjalanan antara Banda Aceh dan Medan minimal hingga 2 jam.
Menutup keterangannya, Wabup Tarmizi mengingatkan pentingnya menjaga solidaritas antar-wilayah tetangga yang sama-sama terdampak, seperti Lhokseumawe, Pidie Jaya, dan Bireuen, demi pemulihan ekonomi menyeluruh di lintas pesisir Aceh. (tim/red)


Post a Comment