Aceh Utara, newsataloen.com — Sekitar 15.000 jemaah memadati halaman Kantor Bupati Aceh Utara untuk mengikuti Zikir Akbar memperingati Hari Ulang Tahun Perdamaian Aceh ke-21, Sabtu (15/8/2026). Kegiatan ini dihadiri berbagai elemen masyarakat serta jajaran Pemerintah Kabupaten Aceh Utara, dipimpin oleh Imum Masjid Baiturrahim Lhoksukon, Tgk. Jamaluddin (Walidi).
Mengusung tema "Penyelesaian Konflik yang Damai, Menyeluruh, Berkelanjutan, dan Bermartabat dalam Bingkai NKRI", acara ini juga mengangkat jargon global: Dignity, Justice, and Hope (Martabat, Keadilan, dan Harapan). Ceramah utama disampaikan oleh Tgk. Zainuddin Ibrahim dari Kecamatan Syamtalira Bayu.
Bupati Aceh Utara, H. Ismail A. Jalil, menyebut momentum 21 tahun penandatanganan MoU Helsinki ini sebagai ruang refleksi bersama atas capaian yang telah dirasakan maupun yang belum terwujud sepenuhnya oleh masyarakat.
"Hari ini kita melaksanakan doa bersama, bermunajat kepada Allah agar semua butir-butir MoU Helsinki yang belum diselesaikan bisa segera dituntaskan," ujar Ismail usai kegiatan. Ia juga menekankan pentingnya penyempurnaan implementasi hak-hak Aceh yang dinilai belum berjalan optimal.
Saat ditanya poin paling mendesak yang harus segera diselesaikan bersama pemerintah pusat, Ismail secara tegas menyoroti sektor ekonomi — khususnya realisasi pembagian hasil bumi dengan porsi 70% untuk Aceh dan 30% untuk Pemerintah Pusat. Aturan tersebut hingga kini belum terlaksana sepenuhnya.
"Pemerintah Pusat segera menyempurnakan regulasi ini demi menjamin kesejahteraan berkelanjutan bagi masyarakat Aceh," harap Bupati.
Dalam ceramahnya, Ustadz Zainuddin menekankan bahwa perdamaian yang dirasakan Aceh saat ini adalah nikmat besar yang wajib disyukuri dan dirawat. Menurutnya, menjaga komitmen dan poin-poin kesepahaman Helsinki bukan hanya tugas pemerintah atau kelompok tertentu, melainkan amanah bersama demi masa depan generasi Aceh yang lebih baik.
"MoU Helsinki adalah modal utama kita dalam membangun Aceh yang bermartabat. Kita harus bahu-membahu menjaga, mengawal, dan merawat perdamaian ini agar tetap kokoh dan membawa kesejahteraan bagi kita semua," ujar Ustadz Zainuddin.
Ia juga mengajak masyarakat untuk menyikapi setiap tantangan pembangunan di Aceh dengan semangat persatuan, dialog, dan mengedepankan nilai-nilai syariat Islam yang damai.
Melalui momentum ini, diharapkan seluruh lapisan masyarakat Aceh dapat memperkuat kembali komitmen kebersamaan dalam mengawal keberlanjutan perdamaian demi terwujudnya Aceh yang adil dan makmur.
Acara Zikir Akbar berlangsung dengan khidmat, menjadi simbol harapan baru agar perdamaian yang telah dirintis dapat berjalan beriringan dengan keadilan ekonomi yang nyata bagi seluruh rakyat Aceh. (tim/ops/red/mi)

Post a Comment