![]() |
| Dr. Iswadi |
Jakarta, newsataloen.com -Perkembangan Artificial Intelligence (AI) telah menghadirkan perubahan besar di berbagai sektor kehidupan, mulai dari pendidikan, bisnis, pemerintahan, kesehatan, hingga industri kreatif. Di balik kemudahan yang ditawarkan, penggunaan AI juga memerlukan sikap bijak, etika, dan kemampuan berpikir kritis agar teknologi tersebut benar-benar memberikan manfaat bagi masyarakat.
Pakar pendidikan dan pengamat sosial, Dr. Iswadi, Minggu,(26/07)menegaskan bahwa masyarakat tidak boleh sekadar mengikuti tren penggunaan AI tanpa memahami fungsi, manfaat, serta risiko yang menyertainya. Menurutnya, AI merupakan alat yang sangat membantu dalam meningkatkan produktivitas, tetapi manusia harus tetap menjadi pengendali utama dalam setiap pengambilan keputusan.
AI adalah teknologi yang luar biasa, tetapi jangan sampai kita menerima semua informasi yang dihasilkannya tanpa berpikir kritis. AI adalah alat bantu, bukan pengganti kemampuan manusia, ujar Dr. Iswadi.
Ia menjelaskan, AI mampu mempercepat analisis data, menyusun dokumen, menerjemahkan bahasa, menghasilkan ide kreatif, hingga mendukung proses pembelajaran dan pekerjaan di berbagai bidang. Namun, AI bukanlah sumber kebenaran yang mutlak karena sistem ini bekerja berdasarkan data dan pola yang dipelajarinya, sehingga tetap memiliki keterbatasan.
Karena itu, Dr. Iswadi mengingatkan pentingnya melakukan verifikasi terhadap setiap informasi yang dihasilkan AI, terutama yang berkaitan dengan pendidikan, kesehatan, hukum, maupun kebijakan publik.
Jangan langsung percaya pada setiap jawaban AI. Biasakan mengecek kembali informasi melalui sumber yang kredibel. Literasi digital menjadi kemampuan yang sangat penting di era teknologi saat ini, tegasnya.
Selain risiko penyebaran informasi yang tidak akurat, Dr. Iswadi juga menyoroti pentingnya menjaga keamanan data pribadi saat menggunakan layanan berbasis AI. Ia mengimbau masyarakat agar tidak sembarangan memasukkan data sensitif, seperti identitas pribadi, informasi keuangan, dokumen penting, maupun data perusahaan, tanpa memahami kebijakan perlindungan data dari penyedia layanan.
Menurutnya, kesadaran terhadap keamanan data harus menjadi bagian dari budaya masyarakat digital agar kemudahan teknologi tidak justru membuka celah terhadap penyalahgunaan informasi.
Dalam bidang pendidikan, Dr. Iswadi menilai AI memiliki potensi besar untuk meningkatkan kualitas pembelajaran. Guru dapat memanfaatkannya sebagai media pendukung dalam menyusun materi ajar, membuat evaluasi pembelajaran, dan mencari referensi. Sementara itu, mahasiswa dan pelajar dapat menggunakan AI untuk memahami konsep yang sulit, memperluas wawasan, serta memperoleh inspirasi dalam belajar.
Meski demikian, ia menegaskan bahwa AI tidak boleh dijadikan jalan pintas untuk menyelesaikan tugas tanpa memahami materi.
AI seharusnya menjadi asisten belajar, bukan pengganti proses berpikir. Pendidikan tetap harus membangun karakter, kreativitas, kemampuan analisis, dan pemecahan masalah yang menjadi kekuatan utama manusia, katanya.
Di dunia kerja, Dr. Iswadi menilai AI akan terus mengubah cara bekerja di berbagai sektor. Namun, perkembangan tersebut tidak berarti AI akan menggantikan seluruh peran manusia. Sebaliknya, kemampuan seperti kepemimpinan, komunikasi, kreativitas, empati, kolaborasi, dan pengambilan keputusan berbasis etika akan semakin dibutuhkan.
Persaingan di masa depan bukan lagi antara manusia dan AI, tetapi antara mereka yang mampu memanfaatkan AI secara efektif dengan mereka yang tidak mau beradaptasi, jelasnya.
Dr. Iswadi juga mengajak pemerintah, institusi pendidikan, dunia usaha, dan masyarakat untuk bersama sama membangun budaya penggunaan AI yang bertanggung jawab melalui penguatan literasi digital, edukasi yang berkelanjutan, serta regulasi yang adaptif terhadap perkembangan teknologi.
Dr. Iswadi menegaskan bahwa AI harus dipandang sebagai mitra untuk belajar, bekerja, dan berinovasi(rel/ rj)

Post a Comment