/> GAS ANDAMAN: DOA YANG BELUM TIBA

GAS ANDAMAN: DOA YANG BELUM TIBA

 


Puisi Esai

L K Ara


Di dasar laut,
Allah menyimpan cahaya
dalam rupa gas,
sebagaimana Dia menyimpan hujan
di balik awan,
dan rezeki
di balik kesabaran.

Aceh pernah menjadi nyala
yang menghangatkan negeri-negeri jauh.
Api dari Arun
menerangi dunia,
namun di beranda sendiri
masih banyak dapur
yang menunggu bara.

Betapa aneh sejarah:
laut kami kaya,
tanah kami subur,
langit kami lapang,
namun doa-doa ibu
masih sering berakhir
dengan air mata.

Mungkin yang hilang
bukan semata kekayaan,
melainkan amanah
yang tercecer
di meja-meja kekuasaan.

Sebab bumi
tak pernah berdusta.
Ia hanya menyerahkan hasilnya
kepada tangan-tangan
yang sanggup berlaku adil.

Andaman,
janganlah hanya menjadi
angka-angka investasi,
atau deretan devisa
yang menguap
ke cakrawala.

Jadilah engkau
roti bagi anak yatim,
obat bagi yang sakit,
sekolah bagi anak kampung,
jalan bagi desa-desa,
dan senyum
di wajah orang tua
yang telah lama menunggu.

Ya Allah,
jika Engkau bukakan
pintu rezeki dari laut kami,
bukakan pula
pintu hati
bagi mereka
yang memegang amanah.

Sebab kekayaan
tanpa keadilan
hanyalah kilau
yang memantulkan kesunyian.

Dan Aceh,
tak sedang meminta
lebih banyak harta—

Aceh hanya merindukan
agar setiap anugerah-Mu
menjelma
menjadi keberkahan.

**Catatan Penyair**

Puisi ini berangkat dari renungan atas penemuan cadangan gas alam di kawasan Andaman, Aceh, yang dipandang sebagai salah satu harapan baru bagi masa depan ekonomi daerah. Namun, puisi ini tidak dimaksudkan sebagai pembacaan ekonomi atau politik semata, melainkan sebagai tafsir spiritual tentang hubungan manusia dengan nikmat Tuhan.

Dalam perspektif tasawuf, setiap kekayaan alam merupakan *ayat kauniyah*—tanda-tanda kebesaran Allah di alam semesta. Karena itu, gas bukan sekadar komoditas energi, melainkan metafora tentang amanah. Kekayaan hanya akan menjadi berkah apabila dikelola dengan kejujuran, keadilan, dan kasih sayang terhadap sesama. Sebaliknya, tanpa nilai-nilai tersebut, limpahan sumber daya dapat berubah menjadi ujian yang memperberat pertanggungjawaban manusia di hadapan Allah.

Penyebutan Fir'aun dan Nabi Sulaiman a.s. merupakan simbol dua cara memandang kekuasaan dan kekayaan: yang pertama menjadikan nikmat sebagai sumber kesombongan, sedangkan yang kedua mengembalikan seluruh karunia kepada Sang Pemberi Nikmat. Melalui simbol itu, puisi ini mengajak pembaca merenungkan bahwa kemakmuran sejati tidak diukur dari banyaknya hasil bumi yang diangkat ke permukaan, melainkan dari sejauh mana hasil itu menghadirkan keadilan, ilmu, dan kesejahteraan bagi masyarakat.

*"Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan..."* (QS. An-Nahl [16]: 90).

Ayat tersebut menjadi ruh yang melandasi keseluruhan puisi. Bagi Aceh, harapan terbesar bukanlah menemukan gas yang lebih banyak, melainkan menemukan kembali keberkahan dalam mengelola setiap anugerah Allah. ‎<Pesan ini diedit>

Post a Comment

أحدث أقدم