Bireuen, newsataloen.com - Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Bireuen menyampaikan keprihatinan serius terhadap pelaksanaan seleksi Manajer Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) 2026 yang diwarnai oleh berbagai gangguan teknis
Gangguan teknis tersebut terjadi saat pelaksanaan ujian pada 5 Mei 2026 di tempat pelaksanaan ujian CAT KDMP 2026 di Banda Aceh. Peserta mengalami kendala seperti sistem yang tidak merespon saat memilih jawaban, tampilan soal yang freeze, serta waktu ujian yang tetap berjalan meskipun terjadi error. Kondisi ini berpotensi merugikan peserta secara langsung dan mencederai prinsip keadilan dalam seleksi
Gangguan serupa tidak hanya terjadi di Banda Aceh, tetapi juga dilaporkan di berbagai daerah di Indonesia. Hal ini menunjukkan adanya persoalan yang berpotensi sistemik dan memerlukan evaluasi menyeluruh dari penyelenggara.
Selain itu, banyak peserta datang dari berbagai daerah dengan pengorbanan waktu, tenaga, dan biaya yang tidak sedikit. Oleh karena itu, peserta berhak mendapatkan kondisi ujian yang layak, stabil, dan profesional
Berdasarkan pengalaman langsung peserta, ditemukan adanya kejadian di mana jawaban yang telah dipilih berubah secara tidak semestinya. Ketika hal tersebut dikonfirmasi kepada petugas di lokasi, peserta hanya diarahkan untuk tetap melanjutkan ujian tanpa solusi yang jelas. Kondisi ini semakin memperkuat urgensi dilakukannya evaluasi menyeluruh terhadap sistem ujian
Berdasarkan kondisi tersebut, terdapat beberapa persoalan krusial:
1. Ketidakandalan Sistem Ujian
Gangguan teknis menimbulkan keraguan serius terhadap keakuratan dan integritas sistem ujian berbasis komputer.2. Ketidakseimbangan Standar dan Pelaksanaan
Penetapan passing grade yang tinggi tidak diimbangi dengan kesiapan sistem yang stabil, sehingga berpotensi menciptakan ketidakadilan struktural bagi peserta.
3. Kerugian Nyata Peserta
Peserta telah mengorbankan waktu, tenaga, dan biaya, namun tidak mendapatkan kondisi ujian yang layak untuk menunjukkan kemampuan secara optimal.Ketua Umum HMI Cabang Bireuen, T. Mirza Saputra, menyampaikan:
“Gangguan ini tidak hanya terjadi di Aceh, tetapi juga dialami peserta di berbagai daerah di Indonesia. Ini menunjukkan adanya persoalan serius yang harus segera dievaluasi secara menyeluruh.Seleksi tidak boleh bergantung pada keberuntungan. Sistem yang tidak stabil jelas mencederai prinsip keadilan.
Peserta datang dari jauh dengan pengorbanan waktu, tenaga, dan biaya. Mereka berhak mendapatkan proses yang layak dan profesional.Saya sendiri mengalami jawaban yang telah dipilih berubah tanpa sebab yang jelas. Ini menyangkut keakuratan hasil ujian.
Saat dikonfirmasi, tidak ada solusi—peserta hanya diminta melanjutkan ujian. Ini menunjukkan lemahnya kesiapan di lapangan.Evaluasi harus dilakukan secara serius, baik pada sistem maupun kebijakan, termasuk passing grade.
Kami menuntut perbaikan segera agar seleksi ini benar-benar adil dan dapat dipercaya.”HMI Cabang Bireuen menegaskan bahwa seleksi yang adil hanya dapat terwujud apabila didukung oleh sistem yang profesional, stabil, transparan, dan dapat dipercaya.
Oleh karena itu, kami menyatakan sikap:
1. Mendesak dilakukannya evaluasi menyeluruh terhadap pelaksanaan ujian CAT KDMP 2026
2. Menuntut transparansi sistem, termasuk jaminan keakuratan dan keamanan data jawaban peserta
3 Mendorong adanya kebijakan yang adil, termasuk opsi ujian ulang bagi peserta yang terdampak gangguan teknis
1. Meminta pernyataan resmi dari penyelenggara sebagai bentuk tanggung jawab publik
5. Mendorong peninjauan kembali kebijakan, termasuk standar kelulusan, agar tetap berpijak pada prinsip keadilan dan kondisi pelaksanaan di lapangan
Seleksi ini bukan sekadar proses administratif, melainkan menyangkut kepercayaan publik dan masa depan pengelolaan ekonomi desa. Oleh sebab itu, integritas proses seleksi harus dijaga secara serius.HMI Cabang Bireuen akan terus mengawal proses ini hingga keadilan bagi seluruh peserta benar-benar ditegakkan. (rls/red) .

إرسال تعليق