Jakarta, newsataloen.com – Gerakan Moral Rekonsiliasi Indonesia (GMRI) terus memperkuat langkahnya dalam membangun kesadaran spiritual sebagai fondasi peradaban manusia. Berawal dari tradisi diskusi rutin non-formal setiap Senin dan Kamis di Sekretariat GMRI, Jl. Ir. H. Juanda No. 4 A, Jakarta Pusat, gerakan ini kini bertransformasi menjadi misi diplomasi spiritual berskala global.
Jacob Ereste, tokoh di balik gerakan ini, mengungkapkan bahwa diskusi rutin yang telah berjalan lebih dari dua tahun tersebut bukan sekadar pertemuan biasa. Diskusi ini telah melahirkan ribuan narasi dan pemikiran yang kini siap dibukukan sebagai catatan perjalanan budaya yang khas.
"Pertemuan ini membangun model budaya berbasis kesadaran spiritual, etika, dan moral. Kami menjunjung tinggi adab dalam berinteraksi, di mana setiap sahabat GMRI memiliki ruang demokratis untuk menyampaikan gagasan demi menjaga fitrah manusia sebagai khalifatullah di bumi," ujar Jacob.
Diplomasi Spiritual ke MancanegaraKiprah GMRI kini meluas melampaui batas negara. Melalui konsep "Diplomasi Spiritual Global", GMRI aktif menjalin silaturahmi dengan berbagai kedutaan besar negara sahabat. Langkah ini akan ditindaklanjuti dengan kunjungan kehormatan ke berbagai negara untuk membawa misi besar: menjadikan Indonesia sebagai mercu suar dunia.Indonesia dinilai memiliki potensi besar sebagai pusat kajian dan laboratorium spiritual dunia.
Kekayaan tradisi, budaya luhur, serta peninggalan sejarah seperti candi-candi megah di Jawa dan Sumatra menjadi bukti kejayaan masa lalu yang mampu menarik perhatian dunia melalui wisata spiritual.
Dalam misi globalnya, GMRI membekali diri dengan "Kitab MA HA IS MA YA" dan agenda penganugerahan Asma Bhumi kepada sejumlah tokoh dunia yang dinilai berpengaruh.
"Diplomasi ini diharapkan menciptakan perubahan signifikan bagi peradaban manusia di masa depan agar lebih beradab dan selaras dengan nilai-nilai ketuhanan," tambah Jacob.
Melalui konsistensi dari diskusi meja makan yang hangat hingga langkah diplomasi internasional, GMRI optimistis bahwa visi Indonesia sebagai pusat spiritualitas global bukan sekadar impian, melainkan agenda yang tengah diwujudkan.
Pecenongan, 4 Maret 2026

إرسال تعليق