/> Dr.Iswadi Ungkap Gen Z Habiskan Waktu Lebih Lama di Sekolah, tapi Kalah Cerdas dari Milenial

Dr.Iswadi Ungkap Gen Z Habiskan Waktu Lebih Lama di Sekolah, tapi Kalah Cerdas dari Milenial

 

Dr Iswadi

Jakarta, newsataloen.com - Dr. Iswadi mengungkapkan sebuah fenomena yang memicu perdebatan di kalangan pendidik dan pemerhati generasi muda: Generasi Z menghabiskan waktu lebih lama di sekolah dibandingkan generasi sebelumnya, namun secara rata-rata dinilai kalah cerdas dibandingkan generasi milenial. Pernyataan ini bukan dimaksudkan untuk merendahkan Gen Z, melainkan sebagai kritik reflektif terhadap sistem pendidikan dan perubahan sosial yang menyertainya.

Menurut Dr. Iswadi, jika dilihat dari durasi formal pendidikan, Gen Z secara objektif memiliki jam belajar yang lebih panjang. Kurikulum semakin padat, jam sekolah bertambah, tugas menumpuk, dan berbagai kegiatan tambahan seperti ekstrakurikuler, les privat, hingga pembelajaran daring membuat waktu mereka hampir sepenuhnya terserap oleh aktivitas akademik. Namun ironisnya, peningkatan kuantitas waktu belajar tersebut tidak selalu berbanding lurus dengan kualitas pemahaman dan kemampuan berpikir kritis.

Ia menyoroti bahwa kecerdasan tidak semata-mata diukur dari lamanya duduk di bangku sekolah atau tingginya nilai ujian. Milenial, meskipun secara rata-rata memiliki jam sekolah yang lebih singkat, tumbuh dalam sistem yang menuntut kemandirian berpikir. Keterbatasan teknologi pada masa itu justru memaksa mereka untuk mencari solusi secara kreatif, membaca lebih dalam, berdiskusi langsung, dan belajar dari pengalaman nyata.

Sebaliknya, Gen Z tumbuh di era digital yang serba instan. Informasi tersedia hanya dalam hitungan detik, tetapi sering kali dangkal. Dr. Iswadi menjelaskan bahwa kemudahan akses ini membuat banyak pelajar Gen Z terbiasa dengan jawaban cepat tanpa proses berpikir panjang. Mereka mahir mencari, tetapi kurang mendalami. Akibatnya, kemampuan analisis, sintesis, dan refleksi menjadi kurang terasah.

Selain itu, sistem pendidikan saat ini dinilai terlalu berorientasi pada capaian angka. Ujian, ranking, dan standar kelulusan menjadi fokus utama. Siswa didorong untuk menghafal demi nilai, bukan memahami demi pengetahuan. Dalam kondisi seperti ini, Gen Z memang terlihat sibuk dan tertekan oleh tuntutan akademik, namun tidak selalu berkembang secara intelektual maupun emosional.

Dr. Iswadi juga menyinggung faktor distraksi digital. Ponsel pintar, media sosial, dan arus konten tanpa henti menggerus kemampuan fokus. Waktu belajar yang panjang sering kali terpecah oleh notifikasi dan kebiasaan multitasking. Berbeda dengan milenial yang relatif mengalami masa belajar dengan gangguan lebih sedikit, Gen Z harus berjuang mempertahankan konsentrasi di tengah dunia yang terus menarik perhatian mereka.

Namun, Dr. Iswadi menegaskan bahwa menyebut Gen Z “kalah cerdas” tidak boleh dipahami secara simplistis. Kecerdasan memiliki banyak bentuk. Gen Z unggul dalam literasi digital, adaptasi teknologi, dan kepekaan terhadap isu sosial global. Mereka lebih terbuka, cepat beradaptasi, dan berani menyuarakan pendapat. Masalahnya bukan pada potensi, melainkan pada bagaimana potensi tersebut diarahkan dan dikembangkan.

Ia menilai tantangan terbesar ada pada sistem pendidikan dan pola pengasuhan. Sekolah terlalu menjejalkan materi, sementara ruang untuk eksplorasi, diskusi mendalam, dan kegagalan yang produktif semakin sempit. Anak-anak Gen Z jarang diberi kesempatan untuk benar-benar berpikir pelan, merenung, dan belajar dari proses.

Sebagai solusi, Dr. Iswadi mendorong perubahan paradigma pendidikan. Waktu belajar yang panjang harus diimbangi dengan metode yang bermakna. Guru perlu berperan sebagai fasilitator berpikir, bukan sekadar penyampai materi. Teknologi seharusnya dimanfaatkan sebagai alat pendukung pemahaman, bukan pengganti proses berpikir.

Pada akhirnya, perbandingan antara Gen Z dan milenial bukan untuk menentukan siapa yang lebih unggul, melainkan untuk menyadarkan bahwa setiap generasi dibentuk oleh zamannya. Jika Gen Z hari ini tampak tertinggal dalam aspek tertentu, itu adalah cermin dari sistem yang membesarkan mereka. Dengan pembenahan yang tepat, Gen Z bukan

Post a Comment

أحدث أقدم