/> Ketum SPBI: Rakyat Semakin Cerdas, Mampu Bedakan Kritik Konstruktif dan Kepentingan Politik Sempit terhadap Pemerintahan Prabowo Subianto

Ketum SPBI: Rakyat Semakin Cerdas, Mampu Bedakan Kritik Konstruktif dan Kepentingan Politik Sempit terhadap Pemerintahan Prabowo Subianto

 

Dr. Iswadi

Jakarta, newsataloen.com - Ketua Umum Solidaritas Pemersatu Bangsa Indonesia (SPBI), Dr. Iswadi, M.Pd, menegaskan bahwa tingkat kesadaran serta kecerdasan masyarakat Indonesia dalam memahami dinamika politik nasional terus mengalami peningkatan signifikan. Hal ini terlihat dari kemampuan publik dalam menyaring berbagai informasi yang beredar, sekaligus membedakan secara objektif antara kritik yang bersifat konstruktif dan kritik yang sarat kepentingan politik sempit.

Menurut Dr. Iswadi, perkembangan ini merupakan indikator positif bagi kualitas demokrasi di Indonesia. Masyarakat tidak lagi mudah terpengaruh oleh narasi yang menyesatkan atau provokatif, melainkan semakin rasional dalam menilai berbagai pandangan yang ditujukan kepada pemerintah, khususnya dalam konteks kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto.

Dalam keterangannya, ia menegaskan bahwa kritik merupakan elemen penting dalam sistem demokrasi yang sehat. Kritik yang konstruktif, berbasis data, serta disampaikan dengan niat baik untuk perbaikan, justru menjadi salah satu pilar dalam memperkuat jalannya pemerintahan. Oleh karena itu, pemerintah dan seluruh elemen bangsa perlu membuka ruang terhadap kritik yang membangun sebagai bagian dari mekanisme kontrol publik.

Kritik yang sehat adalah kritik yang dilandasi oleh fakta, analisis yang matang, serta bertujuan untuk memperbaiki kebijakan demi kepentingan rakyat luas. Ini adalah bentuk partisipasi publik yang harus dihargai dan didorong, ujar Dr. Iswadi.

Namun demikian, ia juga menyoroti adanya fenomena di mana kritik kerap digunakan sebagai alat untuk mencapai kepentingan tertentu. Menurutnya, tidak sedikit pihak yang menyampaikan kritik bukan atas dasar kepedulian terhadap bangsa, melainkan sebagai strategi untuk mendapatkan perhatian atau bahkan posisi dalam lingkaran kekuasaan.

Rakyat sekarang sudah sangat cerdas. Mereka mampu melihat mana kritik yang benar-benar tulus untuk memperbaiki kinerja pemerintah, dan mana kritik yang hanya bermotif kepentingan pribadi atau kelompok tertentu, jelasnya.

Lebih lanjut, Dr. Iswadi menyebut bahwa praktik kritik yang disertai harapan untuk dirangkul demi memperoleh kue jabatan merupakan bentuk politik oportunistik yang perlu disadari oleh masyarakat. Kritik semacam ini cenderung tidak substansial dan lebih berorientasi pada kepentingan jangka pendek dibandingkan kepentingan nasional.

Tidak bisa dipungkiri, ada pihak pihak yang menggunakan kritik sebagai alat untuk berharap dirangkul oleh kekuasaan. Tujuannya bukan untuk memperbaiki keadaan, melainkan untuk mendapatkan posisi strategis. Ini yang harus dipahami oleh masyarakat agar tidak terjebak dalam opini yang menyesatkan, tambahnya.

SPBI memandang bahwa meningkatnya literasi masyarakat menjadi faktor penting dalam membentuk pola pikir yang lebih kritis dan rasional. Di era digital saat ini, arus informasi yang begitu cepat memang membawa tantangan tersendiri. Namun di sisi lain, masyarakat juga memiliki akses yang lebih luas untuk melakukan verifikasi dan analisis terhadap informasi yang diterima.

Dalam konteks tersebut, Dr. Iswadi mengajak seluruh elemen bangsa baik tokoh politik, akademisi, media, maupun masyarakat sipil untuk bersama sama menjaga kualitas demokrasi dengan mengedepankan etika dalam menyampaikan kritik. Ia menekankan bahwa kritik yang baik tidak hanya menyampaikan permasalahan, tetapi juga menawarkan solusi yang konstruktif.

Kritik itu penting, tetapi harus disampaikan dengan cara yang benar, berlandaskan fakta, serta disertai solusi. Jangan sampai kritik justru menjadi alat untuk memecah belah bangsa atau menciptakan ketidakpercayaan publik terhadap pemerintah, tegasnya.(rizal jibro).

Post a Comment

أحدث أقدم