/> KARTINI-KARTINI BANGKITLAH, TETAPLAH MULIA

KARTINI-KARTINI BANGKITLAH, TETAPLAH MULIA



Oleh: Martin Sembiring
_(Pamong Pancasila)_


*"Perempuan"* bukan sekadar penanda gender. Secara etimologis, ia berakar dari kata *"Empu"*, sebuah gelar kehormatan bagi sosok yang memiliki otoritas, keahlian, dan daya cipta. Menjadi perempuan berarti menerima mandat yang *di-Empu-kan*: mengampu peradaban, menjaga moral, dan menjadi gerbang bagi kehidupan.


Namun sejarah mencatat ironi yang pedih. Sang "Empu" yang semestinya merdeka atas dirinya sendiri, selama berabad-abad justru kerap dijajah dominasi laki-laki. Ruang geraknya dibatasi sekat sumur, dapur, kasur. Intelektualitasnya dipasung. Suaranya dibungkam adat yang mengekang. Perempuan diposisikan sebagai pelengkap penyerta, bahkan kerap menjadi pelengkap penderita di tengah arus modernitas yang lebih sering mengeksploitasi tubuh ketimbang memuliakan jiwa.


Di tengah kegelapan itulah Raden Adjeng Kartini hadir membawa cahaya. Bagi Kartini, kemuliaan jiwa wanita harus berdiri di atas fondasi *Intelektualisme* dan *Kemandirian*. Ia percaya jika perempuan cerdas, maka seluruh bangsa akan cerdas. Pendidikan bukan alat untuk menyaingi laki-laki, melainkan sarana agar perempuan cakap menunaikan tugasnya sebagai pendidik pertama bagi anak anaknya. Ia mendorong perempuan memiliki kedaulatan berpikir, atau _Zelf-denken_, agar tidak mudah ditundukkan keadaan.


Kemanunggalan jiwa wanita mencapai puncak spiritualnya pada sosok *Santa Maria*. Dalam kemurnian kerahimannya, Maria adalah transformator energi Ilahi yang luar biasa. Ia adalah "Empu" sejati yang memikul tanggung jawab atas keselamatan manusia di dunia melalui ketaatan agungnya, _Fiat_. Maria membuktikan bahwa kelembutan bukan kelemahan. Air mata yang menetes dari mata seorang wanita bukan tanda ketidakberdayaan, melainkan sarana pembersihan jiwa yang mampu mencuci batin yang kotor oleh ambisi duniawi.


Bangsa Indonesia secara fitrah adalah bangsa yang feminin dalam menjaga keharmonisan. Kita mengenal Ibu Pertiwi, Ibu Kota, hingga Ibu Jari. Ini menunjukkan bahwa peran perempuan bersifat sentral dan menentukan arah keselamatan bangsa. Jika kaum perempuan tidak bangkit dengan landasan moral spiritual yang kuat, maka bangsa ini hanya akan menjadi lahan buangan limbah modernitas.


Oleh karena itu, wahai Kartini-Kartini masa kini: *Bangkitlah*.


Jangan biarkan jiwamu dijajah oleh tuntutan zaman yang merendahkan martabatmu. Jadilah Perempuan Baru yang terdidik dan mandiri, namun tetap setia pada akar budaya dan kodrat kerahimanmu. Kembalilah menjadi "Empu" bagi duniamu sendiri. Menjadi ahli dalam menjaga nilai nilai Pancasila, menjadi penjaga gawang moralitas keluarga, dan menjadi pelita bagi kemanusiaan.


Sebab di tanganmu peradaban diampu. Di telapak kakimu, surga dan keselamatan masa depan bangsa diletakkan. Tetaplah mulia, karena engkaulah pemegang kunci peradaban yang beradab.


*Referensi Pustaka*  

1. *Abendanon, J.H.* (1911). _Door Duisternis tot Licht_ (Habis Gelap Terbitlah Terang). Jakarta: Balai Pustaka.  

2. *Pane, Armijn.* (1938). _Habis Gelap Terbitlah Terang_. Jakarta: Balai Pustaka.  

3. *Yuwono, Teguh.* (2024). _Meng-EMPU-kan Per-EMPU-an_. Naskah Refleksi Filosofi Bahasa dan Kebangsaan.  

4. *Vatican Council II.* _Lumen Gentium - Chapter VIII: The Blessed Virgin Mary, Mother of God, in the Mystery of Christ and the Church_.  

5. *Geertz, Clifford.* (1960). _The Religion of Java_. University of Chicago Press.  

6. *Toer, Pramoedya Ananta.* (2000). _Panggil Aku Kartini Saja_. Jakarta: Lentera Dipantara.  

7. *Sujamto.* (1992). _Refleksi Budaya Jawa_. Semarang: Dahara Prize.  


-

Post a Comment

Previous Post Next Post