/> BELAWAN DARURAT BEGAL! Pomal Lantamal I Turun Gunung, GPEI Desak Jam Operasional Depo Dirombak Total

BELAWAN DARURAT BEGAL! Pomal Lantamal I Turun Gunung, GPEI Desak Jam Operasional Depo Dirombak Total




Belawan, newsataloen.com - Aksi kriminalitas jalanan di kawasan Medan Utara, khususnya jalur logistik menuju Pelabuhan Belawan, telah mencapai titik didih. Maraknya aksi pembegalan sadis yang menyasar "pejuang rupiah" seperti sopir truk, pegawai EMKL, hingga staf depo memaksa berbagai pihak untuk mengambil langkah luar biasa.

*Pomal Lantamal I Jawab Keresahan Warga*

Menanggapi situasi yang kian mencekam, Polisi Militer Angkatan Laut (Pomal) Lantamal I (Kodaeral I) mulai turun ke jalan. Langkah ini diambil guna menjawab keresahan masyarakat dan memberikan rasa aman bagi para pengguna jalan di wilayah hukum Belawan.

Tokoh masyarakat Belawan, *Hadi Suhendra*, memberikan apresiasi tinggi terhadap keterlibatan unsur TNI AL tersebut. Menurutnya, sinergi antara Pomal dan unsur Muspika Medan Belawan adalah jawaban nyata atas situasi "Gotham City" yang selama ini dikeluhkan warga.

"Kita apresiasi langkah cepat ini. Masyarakat sudah sangat resah, bahkan di Sicanang warga sempat mengamankan terduga pelaku begal secara mandiri. Kehadiran Pomal diharapkan mampu memberantas premanisme hingga ke akarnya," tegas Hadi.

*Realitas Berdarah di Jalur Logistik*

Berdasarkan investigasi dan laporan yang dihimpun *Gebrak24*, para pelaku begal tidak segan segan melukai korbannya dengan senjata tajam. Dokumentasi mengerikan yang beredar menunjukkan seorang pekerja logistik menderita luka sabetan menganga di punggung. Tak hanya itu, seorang sopir truk trado juga dilaporkan menjadi korban kekerasan tepat di depan Depo Samudra Belawan.

Kondisi diperparah dengan minimnya penerangan jalan. Banyak tiang lampu yang kini padam akibat kabel dan lampunya diduga digondol maling, membiarkan jalur vital ekspor impor ini tenggelam dalam kegelapan saat malam hari.

*GPEI: Jangan Korbankan Nyawa Demi Logistik!*

Ketua Komite Pengembangan dan Diklat GPEI (Gabungan Perusahaan Ekspor Indonesia), *Martin Sembiring, S.T., M.T.*, menegaskan bahwa pengamanan fisik saja tidak cukup. Perlu ada perubahan sistemik dari sisi operasional perusahaan logistik.

"Kita tidak boleh membiarkan kelancaran arus barang dibayar dengan nyawa pekerja. GPEI mendesak pengelola depo untuk menyesuaikan jam operasional agar para pekerja tidak menjadi sasaran empuk begal di malam hari," ujar Martin kepada awak media.

*GPEI mengusulkan 3 poin strategis:*

1. *Operasional Lebih Awal*: Memulai aktivitas depo di bawah pukul 09.00 WIB.

2. *Hapus Jeda Istirahat (Sistem Shift)*: Pelayanan tetap berjalan pada pukul 12.00 sampai 13.00 WIB agar operasional selesai lebih cepat sebelum gelap.

3. *Penyediaan Jalur Aman*: Mengimbau pekerja untuk melakukan konvoi dan tetap waspada di titik titik buta (blind spots).

Khairul Mahalli dari Kadin Sumut juga senada, menyebutkan bahwa kompleksitas masalah Belawan mulai dari kemacetan hingga ruang gelap memerlukan penanganan lintas sektoral yang serius.

"Agar para sopir dan pekerja EMKL agar tetap meningkatkan kewaspadaan. Hindari melintasi area sunyi sendirian dan segera laporkan aktivitas mencurigakan kepada petugas yang berpatroli," imbau Mahalli. (tim/red).

Post a Comment

Previous Post Next Post