Oleh: Martin Sembiring
Sudah lebih dari dua pekan, langit di atas Kota Medan tampak seperti hamparan perak yang membara. Tidak ada arak-arakan awan mendung yang menjanjikan sejuk, yang ada hanyalah sengatan matahari yang mencapai puncaknya di angka 37°C. Di aspal jalanan, fatamorgana menari-nari, namun di lahan-lahan pertanian pinggiran kota, sebuah tragedi sedang sunyi berlangsung: Marhaen, para petani jagung kita, sedang dipaksa bertekuk lutut oleh alam.
Jagung-jagung yang seharusnya mulai mengisi tongkol, kini berdiri meranggas. Batangnya menguning prematur, daunnya menggulung layu, dan buahnya—jika pun ada—hanyalah tongkol kosong tanpa biji. Dalam bahasa teknis, tanaman ini mengalami stress air hebat. Suhu di atas 35°C telah mematikan serbuk sarinya, membuat proses pembuahan gagal total.
Bagi petani, ini bukan sekadar gagal panen; ini adalah kematian harapan yang terpanggang di bawah terik khatulistiwa.
*Anomali di Balik Langit Biru*
Mengapa hujan seolah enggan menyapa Medan? Para ahli meteorologi menunjuk pada fenomena Subsiden, sebuah kondisi di mana massa udara dipaksa turun dari atmosfer atas ke permukaan bumi. Udara yang turun ini memanas dan mengering, bertindak bak "tutup botol" raksasa yang menekan pertumbuhan awan konvektif.
Belum lagi pengaruh geografis Bukit Barisan yang menciptakan efek rain shadow (bayang-bayang hujan), ditambah tarikan uap air oleh siklon tropis di wilayah luar yang menguras "bahan baku" hujan dari langit Sumatera Utara. Alhasil, meski kelembapan di permukaan terasa mencekik, awan tetap minim, dan radiasi matahari langsung menghujam tanpa saringan.
*Jeritan di Balik Angka*
Bagi masyarakat urban, suhu 37°C mungkin hanya berarti tambahan biaya listrik untuk pendingin ruangan. Namun bagi petani di Deli Serdang atau pinggiran Medan, angka itu adalah vonis kemiskinan. Tanaman jagung yang mati sebelum berbuah adalah bukti nyata bahwa ketahanan pangan kita sangat rapuh di hadapan perubahan iklim.
Hingga 27 Maret 2026 ini, pertanyaan besar yang menggelayut adalah: kapan gerah ini berakhir? Data BMKG memberikan sedikit secercah harapan. Masa transisi atau pancaroba diprediksi baru akan menyapa pada Dasarian I April (awal bulan depan). Namun, masa transisi ini pun membawa risiko baru: hujan lebat mendadak yang berpotensi memicu banjir di atas tanah, yang sudah terlanjur keras dan retak-retak.
*Menagih Janji Negara*
Di tengah situasi "putus asa" ini, kehadiran negara menjadi krusial. Skema Asuransi Usaha Tani Padi/Palawija (AUTP) harus segera diaktivasi tanpa birokrasi yang berbelit. Pemerintah melalui kementerian terkait telah menganggarkan triliunan rupiah untuk pemulihan pertanian tahun ini, termasuk bantuan benih gratis melalui sistem eBanper.
Namun, bantuan ini tidak akan berarti jika tidak segera sampai ke tangan para "Marhaen" yang lahannya kini hanya menyisakan batang kering. Para penyuluh lapangan harus bergerak cepat mendata lahan yang terkena "Puso" atau gagal panen total. Jangan biarkan petani sendirian menghitung kerugian.
Sebab, jika Marhaen lumpuh, maka piring-piring nasi dan jagung di meja makan kita semua adalah taruhannya. Kemarau ini adalah alarm keras. Bahwa di balik langit biru yang indah, ada keringat dan air mata yang mengering karena cuaca yang tak lagi ramah. Kita hanya bisa berharap, April segera datang membawa rintik yang menyembuhkan, bukan justru badai yang meruntuhkan sisa-sisa harapan yang ada. ***

Post a Comment