Banda Aceh, newsataloen.com - Aceh tidak hanya memikat lewat keindahan alamnya, tetapi juga melalui kemegahan sejarahnya yang mendunia. Salah satu bukti otentik kejayaan masa lalu tersebut tersimpan rapi di Museum Negeri Aceh, yakni Lonceng Cakra Donya, sebuah artefak monumental yang menjadi saksi bisu hubungan diplomatik antara Aceh dan Tiongkok
Lonceng berbahan besi berbentuk stupa ini dibuat pada tahun 1409 Masehi. Dengan tinggi 125 cm dan lebar 75 cm, lonceng ini memiliki keunikan berupa guratan aksara Hanzi dan Arab di badannya.
Aksara Hanzi yang berbunyi "Sing Fang Niat Tong Juut Kat Yat Tjo" mengukuhkan bahwa lonceng ini merupakan hadiah persahabatan dari Kaisar Yonglee dari Dinasti Ming kepada Kerajaan Samudra Pasai. Hadiah ini diantarkan langsung oleh panglima laut legendaris, Laksamana Cheng Ho, pada tahun 1414 M guna mempererat kerja sama perdagangan dan keamanan.
Sejarah mencatat, saat Kerajaan Samudra Pasai ditaklukkan oleh Sultan Ali Mughayatsyah dari Kerajaan Aceh Darussalam pada 1524 M, lonceng ini diboyong ke Banda Aceh.
Pada masa kejayaan Sultan Iskandar Muda (abad ke-17), lonceng ini diletakkan di bagian buritan kapal induk armada laut Aceh yang bernama "Cakra Donya". Kapal ini begitu ditakuti hingga pihak Portugis menjulukinya sebagai Espanto del Mundo atau "Teror Dunia".
Di atas kapal tersebut, lonceng berfungsi sebagai pemberi aba-aba perang. Selain Lonceng Cakra Donya di bagian depan, terdapat dua lonceng lain yakni Akidato Umoe (berita kejadian) dan Tulak Mara (penolak bencana).
Setelah sempat berpindah tangan saat kapal Cakra Donya dirampas Portugis, lonceng ikonik ini akhirnya kembali ke pangkuan Kerajaan Aceh. Letaknya kemudian dipindahkan ke kompleks Istana Darud Dunia, tepatnya di sudut kanan Masjid Raya Baiturrahman.
Fungsinya pun berubah drastis dari alat perang menjadi penanda religius, yakni sebagai pemanggil salat dan penanda waktu berbuka puasa bagi warga Aceh. Baru pada tahun 1915, pemerintah kolonial memindahkannya secara permanen ke Museum Negeri Aceh hingga saat ini.
Nilai sejarah yang kuat ini mendorong pemerintah melalui Kementerian Pariwisata meluncurkan Jalur Samudra Cheng Ho pada akhir 2015 di Lampulo, Banda Aceh. Langkah ini diambil untuk merawat "romantisme" sejarah sekaligus memperkuat potensi wisata sejarah antara Aceh dan Tiongkok.
Bagi wisatawan yang ingin melihat langsung bukti sejarah ini, Lonceng Cakra Donya dapat dikunjungi setiap hari di halaman Museum Negeri Aceh, Jalan Alauddin Mahmud Syah, Banda Aceh. (Usman Cut Raja)

إرسال تعليق