Laweueung, newsataloen.com - Hujan turun tanpa jeda sejak dini hari, mengguyur Desa Mesjid Laweueung dengan deras yang tak biasa. Langit kelabu menggantung rendah, seakan menekan atap atap rumah warga yang mulai pasrah menghadapi kenyataan. airnya keruh dan berarus deras, merangsek masuk ke pekarangan, lalu ke ruang-ruang rumah yang selama ini menjadi tempat berlindung dan berkumpul keluarga. Dalam hitungan jam, Desa Mesjid Laweueung dikepung banjir dari segala arah.
Warga bergegas menyelamatkan barang barang seadanya. Suara anak-anak menangis bercampur dengan teriakan orang dewasa yang saling memanggil, memastikan anggota keluarga mereka selamat,dari keterangan warga Kamis (08/01). Di salah satu rumah yang terletak tak jauh dari desa, ibu kandung dan keluarga besar Dr. Iswadi seorang tokoh yang dikenal luas atas dedikasi dan pengabdiannya ikut merasakan dampak banjir yang semakin mengkhawatirkan.
Usianya yang tak lagi muda membuat setiap langkah terasa berat. Air telah mencapai lutut, lalu naik perlahan ke pinggang. Rumah yang selama puluhan tahun menjadi saksi perjalanan hidupnya kini tak lagi aman untuk ditempati. Dengan wajah tegar namun mata yang menyimpan kecemasan, beliau dibantu oleh keluarga besar untuk bersiap mengungsi. Beberapa helai pakaian, obat-obatan, dan dokumen penting dimasukkan ke dalam tas plastik agar tidak basah. Saat meninggalkan rumah, beliau sempat menoleh ke belakang, memandang dinding-dinding yang sarat kenangan tempat membesarkan anak-anak, termasuk Dr. Iswadi, dengan segala suka dan duka kehidupan.
Proses evakuasi bukanlah hal yang mudah. Arus air cukup kuat, dan hujan masih terus turun. Keluarga besar memapah beliau dengan penuh kehati-hatian, memastikan setiap langkah aman. Di sepanjang perjalanan, terlihat warga lain yang bernasib sama: lansia, ibu hamil, dan anak-anak yang harus mengungsi demi keselamatan. Kebersamaan dan gotong royong menjadi satu-satunya kekuatan di tengah situasi genting tersebut.
Tempat pengungsian sementara didirikan di dataran yang lebih tinggi, memanfaatkan balai desa dan sekolah yang relatif aman dari genangan. Di sana, sedangkan ibu kandung Dr. Iswadi duduk berselimut kain tipis, ditemani secangkir teh hangat yang disiapkan keluarga besar. Meski tubuhnya lelah, ia tetap berusaha tersenyum dan menyemangati warga lain. Doa tak henti terucap dari bibirnya, memohon agar banjir segera surut dan desa tercinta dapat kembali pulih.
Kabar tentang kondisi Desa Mesjid Laweueung dan pengungsian ibunda Dr. Iswadi cepat menyebar. Semoga segera ada bantuan dari pihak terkait untuk memberikan perhatian, dan menyalurkan bantuan logistik dan kebutuhan darurat. Bagi warga desa, banjir ini bukan sekadar bencana alam, melainkan ujian kebersamaan dan keteguhan hati. Di tengah keterbatasan, mereka saling menguatkan, percaya bahwa setelah air surut, kehidupan akan kembali ditata, sedikit demi sedikit.
Banjir mungkin telah mengepung Desa Mesjid Laweueung, memaksa banyak warganya mengungsi, termasuk ibu kandung Dr. Iswadi. Namun harapan tidak ikut tenggelam. Dari tempat pengungsian, semangat untuk bangkit tetap menyala, menjadi bukti bahwa kemanusiaan dan solidaritas selalu menemukan jalannya, bahkan di tengah bencana. Semoga doa kita segera diijabah.
Semoga bantuan dari pihak terkait baik pemerintah, relawan, maupun para dermawan segera datang tepat waktu dan tepat sasaran. Mudah-mudahan seluruh warga Desa Mesjid Laweueung, termasuk ibu kandung Dr. Iswadi, diberi kesehatan, keselamatan, dan ketabahan dalam menghadapi musibah ini. Semoga banjir lekas surut, desa kembali pulih, dan kehidupan masyarakat dapat berjalan normal kembali. (rel/rizal jibro).

إرسال تعليق