Lhokseumawe, newsataloen.com – PT Perta Arun Gas (PAG) terus memperkuat transformasi kawasan Arun, Lhokseumawe, dari kilang pencairan gas alam berorientasi ekspor menjadi terminal penerimaan, regasifikasi, penyimpanan, serta pusat perdagangan LNG atau LNG Hub berkelas dunia.
Transformasi tersebut merupakan bagian dari strategi optimalisasi aset eks Kilang LNG Arun sekaligus memperkuat kontribusi perusahaan dalam mendukung ketahanan energi nasional.
Dalam pemaparan pada kegiatan Annual Media Gathering PAG, Kamis (5/11/2026), Manajer Technical PAG, Yusriadi, menjelaskan perjalanan transformasi bisnis Arun hingga menjadi salah satu kawasan strategis industri energi di Indonesia.
Ia menyampaikan, pengalihan seluruh operasional Kilang LNG Arun dari PT Arun NGL kepada PAG berlangsung pada 1 Oktober 2015. Sejak saat itu, PAG mengambil alih tanggung jawab pengoperasian seluruh fasilitas utama maupun pendukung di kawasan tersebut.
Setahun kemudian, PAG memperoleh penetapan sebagai Pusat Logistik Berikat (PLB) melalui fasilitas yang diberikan Kementerian Keuangan. Status ini menjadi fondasi penting dalam pengembangan bisnis LNG Hub, terutama untuk mendukung penyimpanan LNG milik pelanggan internasional.
Melalui fasilitas PLB, LNG yang berada di kawasan berikat dapat memperoleh fasilitas kepabeanan sesuai ketentuan yang berlaku, termasuk penangguhan pungutan impor selama memenuhi persyaratan dan tidak digunakan untuk kepentingan domestik.
Tonggak penting pengembangan LNG Hub Arun terjadi pada 2 April 2019, ketika fasilitas PLB dan penyimpanan LNG PAG resmi beroperasi dengan kedatangan kargo LNG internasional pertama dari Australia.
Selain penyimpanan LNG, PAG juga mengembangkan berbagai lini bisnis lainnya, meliputi regasifikasi LNG, LNG trucking atau pengisian LNG ke truk, layanan gasification and cooling down untuk kapal LNG, penyediaan utilitas, serta layanan operasi dan pemeliharaan atau operation and maintenance (O&M).
Dalam bisnis regasifikasi, LNG yang diterima dari sejumlah sumber domestik, seperti Tangguh, Badak, dan Donggi, diproses kembali menjadi gas untuk disalurkan kepada pelanggan, di antaranya PLN, PIM, serta sektor industri di wilayah Sumatera bagian utara.
Berbeda dengan masa kejayaan Arun sebagai kilang yang memproduksi LNG dan LPG untuk kebutuhan ekspor, saat ini PAG berfokus pada penerimaan LNG, penyimpanan, regasifikasi, serta pengiriman kembali LNG kepada pelanggan.
Kawasan Arun memiliki sejumlah aset strategis yang menjadi modal utama pengembangan bisnis tersebut. Infrastruktur yang tersedia meliputi enam unit LNG train dengan kapasitas historis sekitar 12,5 juta ton per tahun, fasilitas LPG, fasilitas kondensat, tangki penyimpanan, serta pelabuhan khusus LNG.
Keberadaan infrastruktur tersebut memungkinkan PAG mengembangkan layanan energi terintegrasi dengan memanfaatkan aset yang sebelumnya digunakan untuk kegiatan ekspor LNG.
Selain itu, posisi geografis Lhokseumawe yang berada di jalur perdagangan internasional memberikan keuntungan strategis bagi pengembangan LNG Hub Arun, terutama dalam melayani kebutuhan pasar domestik maupun regional.
Dalam rencana pengembangan ke depan, PAG juga memproyeksikan pembangunan tambahan fasilitas penyimpanan LNG berupa 10 unit tangki baru dengan kapasitas masing-masing sekitar 80.000 meter kubik.
Rencana tersebut masih mempertimbangkan kondisi bisnis, kebutuhan pasar, serta berbagai aspek pendukung lainnya.
Pengembangan LNG Hub Arun diharapkan semakin memperkuat posisi Lhokseumawe sebagai kawasan strategis industri energi di Indonesia, sekaligus membuka peluang pemanfaatan aset dan infrastruktur eks Kilang LNG Arun secara lebih optimal.
Dengan transformasi tersebut, PAG tidak hanya menjaga keberlanjutan aset energi di Arun, tetapi juga mendorong pengembangan bisnis gas yang semakin terintegrasi dan berorientasi internasional.
Kegiatan tersebut turut dihadiri puluhan awak media cetak dan elektronik dari Kabupaten Aceh Utara dan Kota Lhokseumawe sebagai bagian dari upaya memperkuat sinergi serta komunikasi antara PAG dan insan pers. (tim/red)

Post a Comment