Dhien Faro Pasa
Jangan bilang kami menjarah, apalagi merampas hak orang lain. Sudah seminggu kami bersabar menahan lapar, dan meminum air lumpur, tanpa subutir nasi masuk ke perut.
Tuhan telah berikan kami mata, melihat alam terbuka menatap tipisnya harapan hidup. Tuhan berikan kami jiwa bersama ratusan ribu melata, dosakah kami mengambil sekerat roti, sebotol Aqua sambil menatap bocah, janda, imam, tukang dan buruh yang mata redup.
Jangan bilang kami menjarah,
swalayan yang tertutup tersambung nafas kami
Denyut darah tetap melarang mendobrak dinding beton dan pintu kaca berterali baja, iman haram riba ajaran moyang yang terjaga, sampai hayat terancam dari jiwa raga.
Sudah cukup ribuan jiwa menderita, diantara ratusan belum terkubur karena Fardhu kifayah terhalang kafan dan jalan ke pemakaman telah longsor.
Berikan kesempatan kepada kami wahai pemilik bangunan yang menyimpan pangan.
kami bukan penjarah, mintalah kepada raja dan ratu yang memerintah membayar kembali dari gelondongan jati, jeumpa, seumaram, Meranti, kruing dan damar yang dicuri oleh mereka yang asli penjarah. ***

إرسال تعليق