/> Semangat Pelestarian Identitas Lokal di Tanah Karo Kembali Bergema

Semangat Pelestarian Identitas Lokal di Tanah Karo Kembali Bergema

 



KABANJAHE, newsataloen.com –  Semangat pelestarian *identitas lokal kembali bergema di Tanah Karo*. Hari ini, perhelatan pernikahan adat antara *Maradona Tarigan PC dan Sari Nanta Br Perangin-angin* yang digelar di PPWG Zentrum GBKP, Kabanjahe, menjadi sorotan sebagai bukti nyata luhurnya budaya Karo yang tetap kokoh di tengah arus modernisasi.  

Pesta adat ini bukan sekadar seremoni keluarga, melainkan manifestasi dari semangat pelestarian yang sejalan dengan misi Lembaga Adat Karo Indonesia LAKI dalam menjaga marwah dan martabat tradisi di Bumi Turang.

*Menjunjung Tinggi Sangkep Geluh*  

Kesakralan acara ini berakar pada penerapan struktur Sangkep Geluh yang komprehensif. Seluruh prosesi dijalankan dengan menjunjung tinggi tatanan Merga Silima, Tutur Siwaluh, serta Perkaden-kaden 12+1. Sistem kekerabatan yang sistematis ini memastikan setiap tahapan mulai dari Maba Belo Selambar hingga puncak Keria Adatna berjalan sesuai pakem leluhur.

Kehadiran keluarga besar yang datang dari berbagai daerah, mulai dari Talimbaru hingga Banda Aceh, menegaskan bahwa struktur sosial Karo tetap menjadi perekat utama masyarakat. Dalam sistem ini, setiap individu memiliki peran dan tanggung jawab sakral yang memperkuat fondasi kekeluargaan.

*Sinergi LAKI dan Pemerintah Kabupaten Karo*  

Momentum ini juga mencerminkan sinergi strategis antara masyarakat adat dan pemerintah daerah. Dalam audiensi terbaru dengan pengurus LAKI, Pemerintah Kabupaten Karo menegaskan komitmennya untuk terus mendukung penguatan nilai-nilai budaya dalam kehidupan sehari-hari.

Kehadiran lembaga seperti LAKI dinilai krusial untuk memastikan ritual seperti Pasu-Pasu Tumbuk dan Erdemu Bayu tetap terjaga kemurniannya. Dukungan kebijakan dari Bupati Karo menjadi payung bagi masyarakat untuk terus menghidupkan identitas yang bermartabat.

*Harmoni Spiritual dan Tradisi*  

Rangkaian prosesi diawali dengan pemberkatan kudus di Gereja Katolik Stasi Talimbaru. Bagi keluarga besar almarhum Tengkoh Tarigan PC dan Tempoh Br Sembiring, penyatuan antara ketaatan spiritual dan ritual adat adalah cara memohon perlindungan kepada Tuhan agar pasangan pengantin senantiasa ipedauhna kerina alang abat atau dijauhkan dari segala rintangan.

Melalui pesta rakyat yang sarat makna ini, masyarakat kembali diingatkan bahwa kekuatan bangsa dimulai dari ketahanan budayanya. Nilai kebersamaan dan rasa hormat dalam Sangkep Geluh tetap menjadi fondasi utama bagi kemajuan masyarakat Karo di masa depan.  

_Bujur ras Mejuah-juah. (Martin Sembiring)

Post a Comment

Previous Post Next Post