/> Dr. Iswadi Ungkap Krisis Pendidikan Global dan Tantangan AI di Dunia Akademik Tahun 2026

Dr. Iswadi Ungkap Krisis Pendidikan Global dan Tantangan AI di Dunia Akademik Tahun 2026

 

Dr. Iswadi


Jakarta, newsataloen.com - Pengamat pendidikan dan akademisi nasional, Dr. Iswadi, kembali menyoroti kondisi pendidikan global yang dinilai tengah menghadapi krisis multidimensi pada tahun 2026. Pernyataan tersebut disampaikan melalui press release kepada wartawan terkait perkembangan dunia pendidikan internasional di tengah pesatnya kemajuan teknologi digital dan kecerdasan buatan.

Dr. Iswadi, dunia pendidikan saat ini berada pada titik persimpangan sejarah akibat ketimpangan akses pendidikan, melemahnya kualitas pembelajaran, serta masifnya perkembangan Artificial Intelligence (AI) yang mulai mengubah wajah dunia akademik secara drastis.

Ia menjelaskan bahwa perkembangan teknologi AI memang membawa peluang besar bagi kemajuan pendidikan global, terutama dalam meningkatkan efisiensi pembelajaran, akses informasi, serta inovasi metode pendidikan. Namun di sisi lain, AI juga menghadirkan ancaman serius apabila tidak diimbangi dengan regulasi, etika, dan kesiapan sumber daya manusia yang memadai.

Dunia pendidikan global sedang mengalami krisis yang tidak hanya berkaitan dengan kualitas pembelajaran, tetapi juga krisis moral, ketimpangan akses, dan ketidaksiapan menghadapi revolusi teknologi AI. Jika tidak diantisipasi dengan serius, maka pendidikan akan kehilangan esensinya sebagai sarana pembentukan karakter dan peradaban manusia, ujar Dr. Iswadi.

Dr. Iswadi menilai bahwa saat ini banyak lembaga pendidikan di berbagai negara belum sepenuhnya siap menghadapi disrupsi teknologi yang bergerak sangat cepat. Ketidaksiapan tersebut terlihat dari lemahnya regulasi penggunaan AI di lingkungan akademik, rendahnya literasi digital, serta belum adanya sistem evaluasi pembelajaran yang adaptif terhadap perkembangan teknologi baru.

Ia juga menyoroti semakin lebarnya kesenjangan kualitas pendidikan antara negara maju dan negara berkembang. Menurutnya, banyak negara berkembang masih menghadapi persoalan mendasar seperti keterbatasan infrastruktur pendidikan, rendahnya kualitas tenaga pendidik, hingga minimnya akses teknologi digital bagi peserta didik di daerah terpencil.

Di tengah kondisi tersebut, kehadiran AI justru memperlihatkan bentuk ketimpangan baru dalam dunia pendidikan global. Negara-negara maju dinilai lebih siap mengintegrasikan teknologi AI ke dalam sistem pendidikan mereka, sementara sebagian besar negara berkembang masih berjuang memenuhi kebutuhan dasar seperti akses internet, perangkat digital, dan pemerataan fasilitas pendidikan.

AI seharusnya menjadi alat untuk memperkuat kualitas pendidikan, bukan memperlebar jurang ketimpangan. Namun kenyataannya, negara yang siap secara teknologi akan semakin maju, sedangkan yang tidak siap akan semakin tertinggal, tegasnya.

Menurut Dr. Iswadi, perkembangan AI tidak boleh menjadikan dunia pendidikan kehilangan nilai nilai kemanusiaan. Ia menegaskan bahwa guru dan dosen tetap memiliki peran sentral sebagai pembimbing moral, motivator, sekaligus pembentuk karakter generasi muda.

Ia menilai pendidikan bukan sekadar proses transfer pengetahuan, melainkan juga proses membangun empati, etika, kreativitas, dan kemampuan sosial yang tidak dapat digantikan oleh mesin atau teknologi secanggih apa pun.

Dr. Iswadi juga mengingatkan bahwa saat ini banyak lembaga pendidikan terlalu fokus pada digitalisasi tanpa memperhatikan aspek psikologis dan sosial peserta didik. Akibatnya, muncul berbagai fenomena seperti menurunnya interaksi sosial, meningkatnya tekanan mental, serta melemahnya kemampuan komunikasi interpersonal di kalangan generasi muda.

AI dapat membantu proses pembelajaran, tetapi tidak bisa menggantikan sentuhan manusia dalam pendidikan. Guru tetap memiliki peran penting sebagai inspirator, motivator, dan pembimbing karakter, tambahnya.

Dalam kesempatan tersebut, Dr. Iswadi turut mengkritisi sistem pendidikan global yang dinilai masih terlalu berorientasi pada angka, sertifikat, dan kompetisi akademik semata(rel/rjibro)

Post a Comment

Previous Post Next Post