![]() |
| Dr.Iswadi |
Jakarta, newsataloen.com - Ketika Amerika Serikat dan Israel melakukan serangan militer langsung terhadap wilayah Republik Islam Iran pada 28 Februari 2026, dunia seketika berada di ambang salah satu krisis keamanan terbesar sejak Perang Dunia II. Dalam pandangan seorang pengamat internasional, Dr. Iswadi, aksi militer ini bukan sekadar operasi strategis regional tetapi memiliki potensi untuk memicu konflik global yang jauh lebih luas.
Serangan militer yang dilancarkan oleh Amerika Serikat dan Israel telah menimbulkan reaksi keras dari berbagai negara serta mengundang kekhawatiran serius dari komunitas internasional. Tindakan militer bersama tersebut disebut dalam berbagai laporan sebagai “major combat operations” dengan target utama fasilitas militer, komando strategis, dan program nuklir Iran sebuah upaya yang secara resmi dibenarkan oleh Washington sebagai langkah untuk menghentikan perkembangan nuklir dan ancaman militer yang dipersepsikan.
Bagi Dr. Iswadi, serangan ini melampaui tujuan taktis atau operasional semata. Ini bukan sekadar serangan udara atau operasi terbatas. Ini sebuah titik balik geopolitik yang berpotensi menciptakan domino eskalasi konflik yang tak terduga, ujarnya, merujuk pada sejarah panjang ketegangan antara Iran, Israel, dan sekutu-sekutunya. Pernyataan seperti ini menggemakan kekhawatiran banyak analis bahwa eskalasi militer dapat memicu reaksi berantai di luar kendali.
Risiko Eskalasi yang Meluas
Salah satu alasan utama kekhawatiran eskalasi global adalah karakteristik konflik yang kini mulai melibatkan kekuatan adidaya. Keterlibatan langsung AS dalam operasi militer yang dipicu oleh Israel berarti bahwa konflik tidak lagi terbatas pada kawasan Timur Tengah semata. Dalam sejarah modern, keterlibatan negara adidaya sering kali menjadi bibit utama perang skala besar, karena aliansi-aliansi strategis kemudian ikut terseret ke dalam pertikaian tersebut.
Reaksi internasional terhadap serangan ini sangat cepat dan beragam. Rusia secara terbuka mengecam tindakan AS dan Israel sebagai “akta agresi bersenjata yang tidak diprovokasi” terhadap negara berdaulat, sekaligus memperingatkan bahwa eskalasi semacam ini dapat memicu “bencana kemanusiaan, ekonomi, bahkan radiologis” di kawasan dan dunia. Negara-negara lain seperti Malaysia melalui Menteri Luar Negeri Mohamad Hasan juga menekankan bahwa dunia tidak membutuhkan perang baru, serta menyerukan penghentian segera permusuhan dan kembali ke jalur diplomasi.
Respons Iran dan Potensi Balasan yang Luas
Iran sendiri, setelah diserang, dilaporkan telah meluncurkan serangan balasan menggunakan rudal dan drone ke beberapa posisi Israel dan pangkalan militer AS di kawasan Teluk. Dalam konteks ini, Dr. Iswadi menyoroti bahwa respons Iran kemungkinan tidak akan berhenti pada serangan terbatas. Iran memiliki spektrum balasan yang luas dari serangan rudal balistik hingga penggunaan jaringan proksi di negara-negara seperti Lebanon, Irak, Suriah, dan Yaman. Hal ini bisa menarik berbagai aktor non-negara serta sekutu regional ke dalam konflik, memperluas medan perang ke beberapa front sekaligus.
Tidak hanya itu, keterlibatan kelompok militan atau proxy yang didukung Iran seperti Hezbollah juga bisa memaksa Israel berperang di dua front sekaligus baik melawan kekuatan konvensional maupun kelompok bersenjata di kawasan Levant. Dengan demikian, konflik yang awalnya terpusat di perbatasan Iran Israel memiliki potensi untuk menjadi perang luas yang mencakup banyak negara di Timur Tengah.
Dampak Ekonomi dan Geopolitik Global
Selain risiko eskalasi militer, serangan ini diprediksi akan menyebabkan dampak besar secara ekonomi dan geopolitik. Selat Hormuz, yang merupakan jalur vital ekspor minyak dunia, sangat sensitif terhadap eskalasi konflik langsung antara Iran dan kekuatan barat. Ketidakstabilan di wilayah ini dapat memicu lonjakan harga energi global secara drastis dan memperparah tekanan ekonomi internasional.(rizal jibro).

Post a Comment