/> Menelusuri Kejayaan Samudera Pasai: Destinasi Wisata Sejarah Islam Pertama di Indonesia yang Wajib Dikunjungi

Menelusuri Kejayaan Samudera Pasai: Destinasi Wisata Sejarah Islam Pertama di Indonesia yang Wajib Dikunjungi


Aceh Utara, newsataloen.com – Mengunjungi Provinsi Aceh belum lengkap rasanya jika tidak menapak tilas sejarah kerajaan Islam pertama di Nusantara. Terletak di Desa Beuringin, Kecamatan Samudera, Kabupaten Aceh Utara, Museum Islam Samudera Pasai hadir sebagai jendela waktu yang membawa wisatawan kembali ke masa kejayaan abad ke-13.

Didirikan oleh Meurah Silu atau Sultan Malikussaleh pada tahun 1267 M, Kerajaan Samudera Pasai meninggalkan jejak peradaban besar yang kini tersusun rapi di museum ini. Berikut adalah alasan mengapa Museum Samudera Pasai harus masuk dalam daftar destinasi perjalanan Anda di tahun 2026.

Arsitektur Megah Bak Istana Kerajaan

Bangunan museum yang mulai dibangun sejak 2011 ini memiliki luas 500 meter persegi dengan dua lantai. Desain arsitekturnya dirancang khusus menyerupai tampilan istana kerajaan masa lalu, memberikan kesan megah sekaligus sakral bagi setiap pengunjung yang datang.

Menyimpan Ratusan Koleksi Bersejarah

Dikelola oleh Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Aceh Utara, museum ini menyimpan sekitar 250 jenis koleksi peninggalan abad ke-13 hingga ke-18. Koleksinya terbagi dalam kategori Filologika, Historika, Numismatika, Etnografika, hingga Seni Rupa.

Beberapa hal menarik yang dapat ditemukan di dalam museum antara lain:

Silsilah 13 Penguasa: Di sisi kanan pintu masuk, pengunjung dapat melihat urutan raja yang pernah berkuasa, mulai dari Sultan Malikussaleh hingga Sultan Zain Al’Abidin. Menariknya, terdapat satu-satunya penguasa perempuan (Sultanah) yang bergelar Malika.

Mata Uang Kuno: Koleksi Dirham dan Dinar asli menjadi bukti kemajuan sistem ekonomi Samudera Pasai di masa lampau.

Diplomasi Internasional: Terdapat bukti korespondensi dengan Kerajaan Sriwijaya dan peta kerajaan yang pernah dikirimkan ke Sultan di Turki sebagai bukti bagian dari kekhalifahan Islam dunia.

Perhiasan dan Budaya: Koleksi perhiasan dari kuningan, perak, dan batu alam yang menunjukkan status sosial serta tradisi adat, termasuk replika pelaminan khas Aceh Utara yang unik.

Miniatur Kapal & Alat Perang: Di lantai dua, pengunjung bisa melihat miniatur kapal yang digunakan untuk perdagangan internasional serta berbagai senjata kuno.

Lokasi dan Aksesibilitas

Bagi Anda yang berencana berkunjung, museum ini berjarak sekitar 20 kilometer atau 30 menit perjalanan darat dari pusat Kota Lhokseumawe. Lokasinya sangat strategis karena berdekatan dengan situs sejarah lainnya, seperti Makam Sultan Malikussaleh dan Monumen Samudera Pasai yang megah.

Museum Islam Samudera Pasai bukan sekadar tempat penyimpanan barang antik, melainkan bukti nyata bahwa Indonesia pernah menjadi pusat peradaban dan perdagangan Islam yang disegani di mata dunia. 

Penulis: Usman Cut Raja 

Post a Comment

أحدث أقدم