Aceh Utara, newsataloen.com – Berawal dari hobi dan keinginan mencari alternatif sumber ekonomi, Baizul Khalis, warga Desa Lhok Jok, Kecamatan Kuta Makmur, Kabupaten Aceh Utara, kini mengembangkan usaha budidaya lebah madu kelulut. Selain menghasilkan madu, kegiatan tersebut juga menjadi upaya pemberdayaan ekonomi masyarakat sekaligus menjaga kelestarian lingkungan.
Kepada media ini, Jumat (30/10/2026), Baizul menceritakan bahwa ketertarikannya terhadap budidaya lebah kelulut bermula ketika melihat keberadaan lebah tersebut di batang pohon yang berlubang di sekitar lingkungan tempat tinggalnya.
Melihat potensi tersebut, ia kemudian mengambil koloni lebah dan memindahkannya ke dalam stup atau kotak khusus budidaya agar lebih mudah dipelihara dan dipanen madunya. Koloni pertama itu ditempatkan di pekarangan rumah.
Karena belum memiliki pengetahuan tentang teknik budidaya lebah kelulut, Baizul mulai belajar secara mandiri melalui internet. Setelah memahami dasar-dasar pemeliharaannya, ia terus menambah jumlah sarang dan mengembangkan usaha tersebut secara bertahap.
"Awalnya saya hanya mencoba memanfaatkan lebah kelulut yang ada di lingkungan sekitar. Karena belum memiliki ilmu tentang cara beternaknya, saya belajar secara otodidak melalui internet. Setelah mulai memahami, saya mencoba menambah jumlah sarang," ungkap Baizul.
Perkembangan budidaya tersebut kemudian ia bagikan melalui media sosial. Tanpa disangka, unggahannya menarik perhatian banyak orang yang ingin mengetahui lebih jauh tentang ternak lebah kelulut.
Seiring waktu, sejumlah masyarakat mulai tertarik dan ikut membudidayakan lebah kelulut. Bahkan, peminatnya tidak hanya berasal dari lingkungan sekitar, tetapi juga dari luar Kabupaten Aceh Utara.
Peluang ekonomi pun semakin terbuka. Baizul tidak hanya mengembangkan koloni sendiri, tetapi juga membeli koloni dari peternak lain untuk kemudian dijual kembali kepada masyarakat yang ingin memulai usaha serupa.
"Sebagian masyarakat yang tertarik akhirnya ikut membudidayakan lebah kelulut. Ada juga yang membeli koloni dari saya, termasuk masyarakat dari luar kabupaten. Dari situ mulai terbentuk perputaran ekonomi," jelasnya.
Menurut Baizul, budidaya lebah kelulut memiliki manfaat yang lebih luas daripada sekadar menghasilkan madu. Keberadaan lebah juga membantu proses penyerbukan bunga pada tanaman dan pepohonan sehingga mendukung proses pembentukan buah.
Selain itu, kegiatan budidaya lebah kelulut secara tidak langsung mendorong masyarakat untuk lebih peduli terhadap lingkungan, termasuk dengan menanam berbagai jenis pohon dan tanaman berbunga sebagai sumber pakan lebah.
Ia menilai, menjaga kelestarian pepohonan dan lingkungan merupakan bagian penting dalam mendukung keberlangsungan budidaya lebah kelulut.
"Melalui sistem budidaya lebah ini, masyarakat juga ikut menjaga lingkungan dengan menanam pohon dan bunga. Jadi, manfaatnya bukan hanya mendapatkan madu, tetapi juga membantu penyerbukan tanaman dan menjaga keseimbangan alam," ujarnya.
Baizul berharap, budidaya lebah kelulut dapat semakin berkembang dan menjadi salah satu alternatif usaha produktif bagi masyarakat, khususnya generasi muda.
Ia juga mengajak masyarakat untuk melihat potensi yang tersedia di lingkungan sekitar sebagai peluang ekonomi, tanpa harus mengabaikan kelestarian alam.
Menurutnya, gerakan menanam pohon dan menjaga lingkungan yang tumbuh dari kegiatan budidaya lebah kelulut juga dapat menjadi bagian dari upaya jangka panjang dalam mengurangi risiko bencana lingkungan, termasuk banjir yang menjadi persoalan di sejumlah wilayah.
Dengan demikian, budidaya lebah kelulut tidak hanya menawarkan peluang ekonomi berbasis potensi lokal, tetapi juga mengajarkan pentingnya menjaga hubungan antara manusia dan alam secara berkelanjutan. (tim/red).

Post a Comment