/> Dr. Iswadi: Intelektual Harus Menjadi Penjaga Akal Sehat Publik

Dr. Iswadi: Intelektual Harus Menjadi Penjaga Akal Sehat Publik

 

Dr. Iswadi

Jakarta, newsataloen.com -  Akademisi dan pengamat sosial, Dr. Iswadi, menegaskan bahwa kaum intelektual memiliki tanggung jawab besar untuk menjaga kebenaran dan menjadi penyeimbang di tengah derasnya arus informasi serta tekanan kepentingan di era digital saat ini.

Dalam keterangannya kepada awak media, Sabtu,09/05) di Jakarta,Dr. Iswadi menyampaikan bahwa seorang intelektual tidak boleh hanya berbicara ketika keadaan aman dan menguntungkan. keberanian moral dan integritas merupakan fondasi utama dalam menjalankan peran intelektual di tengah masyarakat.

Tugas intelektual adalah menjaga dan menyampaikan kebenaran, meskipun kebenaran itu tidak selalu populer. Ketika banyak orang memilih diam karena tekanan atau kepentingan tertentu, intelektual harus tetap hadir menyuarakan nurani, ujarnya.

Ia menjelaskan bahwa sejarah telah menunjukkan bagaimana kemajuan peradaban lahir dari keberanian para pemikir yang konsisten membela nilai keadilan, kemanusiaan, dan kejujuran. Dalam situasi sosial yang dipenuhi polarisasi dan disinformasi, suara intelektual dinilai penting sebagai penjaga akal sehat publik.

Dr. Iswadi, perkembangan media sosial dan teknologi digital membawa tantangan baru bagi masyarakat. Informasi yang bergerak sangat cepat sering kali membuat masyarakat kesulitan membedakan fakta dan opini. Akibatnya, sensasi dan popularitas lebih mudah memengaruhi publik dibandingkan kebenaran yang berbasis data.

Di era media sosial, kebenaran sering kalah oleh sesuatu yang viral. Karena itu, intelektual harus memberikan pencerahan dengan pendekatan ilmu pengetahuan, data, dan etika agar masyarakat tidak kehilangan arah, katanya.

Dr. Iswadi juga menyoroti pentingnya menjaga independensi akademik di lingkungan perguruan tinggi dan lembaga penelitian. Menurutnya, kampus harus tetap menjadi ruang bebas untuk berpikir kritis dan melahirkan gagasan yang berpihak pada kepentingan masyarakat.

Ia mengingatkan bahwa intelektual yang terlalu dekat dengan kekuasaan berpotensi kehilangan objektivitas dan keberanian moral. Karena itu, akademisi harus menjaga jarak yang sehat dari berbagai kepentingan politik maupun ekonomi agar tetap mampu menjalankan fungsi kritik secara jujur dan bertanggung jawab.  Ketika intelektual kehilangan independensi, masyarakat juga kehilangan sumber kebenaran. Kampus harus menjadi rumah bagi kebebasan berpikir dan lahirnya pemikiran kritis, tegasnya.

 Dr. Iswadi mengajak generasi muda untuk membangun budaya berpikir kritis dan tidak hanya mengejar popularitas di media sosial. Ia menilai bahwa masa depan bangsa sangat ditentukan oleh keberanian anak muda dalam menjaga integritas dan menyampaikan gagasan berdasarkan fakta.

Generasi muda harus terbiasa menghargai ilmu pengetahuan, terbuka terhadap kritik, dan berani mempertahankan prinsip yang benar meskipun berbeda dengan arus mayoritas.

Bangsa ini membutuhkan generasi yang mampu berpikir jernih, berani berbeda, dan berani mengatakan benar itu benar serta salah itu salah, ujarnya.

Pernyataan Dr. Iswadi mendapat perhatian dari berbagai kalangan, mulai dari akademisi, mahasiswa, aktivis sosial, hingga praktisi media. Banyak pihak menilai pesan tersebut relevan dengan kondisi sosial saat ini yang ditandai dengan meningkatnya penyebaran hoaks, polarisasi, dan melemahnya budaya dialog di ruang publik.

Di akhir keterangannya, Dr. Iswadi menegaskan bahwa intelektual sejati tidak diukur dari popularitas, melainkan dari integritas dan keberanian moral dalam menjaga nilai-nilai kebenaran dan kemanusiaan.Kebenaran mungkin tidak selalu populer, tetapi sejarah akan mencatat mereka yang tetap berdiri menjaga nilai nilai itu ketika banyak orang memilih diam. Intelektual harus menjadi cahaya bagi masyarakat, pungkasnya.(rizal jibro)? ***

Post a Comment

أحدث أقدم