/> Jacob Ereste : Filsafat, Budaya Hingga Tradisi dan Adat Istiadat Dalam Spiritualitas Yang Maha Luas

Jacob Ereste : Filsafat, Budaya Hingga Tradisi dan Adat Istiadat Dalam Spiritualitas Yang Maha Luas



Cilegon, newsataloen.com Spiritualitas itu bersemayam di dalam batin dan hati yang maha luas tidak terbatas, sementara intelektualitas mendekam di dalam batok kepala yang terbatas daya jangkaunya. Karena itu peristiwa Mi'raj Nabi Muhammad SAW hanya dipahami oleh kecerdasan spiritual, tidak dapat dipahami secara intelektual dan nalar sehebat apapun. Kendati melalui ilmu dan pengetahuan yang terbiak di otak, jarak tempuh Sidratul  Muntaha di langit ke tujuh itu dari Mekkah dan Madinah dapat dihitung secara matematis dalam kalkulasi kecepatan cahaya, sehingga harus ditempuh dalam waktu sekian tahun lamanya dengan pesawat yang mampu melesat 15 kali kecepatan cahaya.

Ilustrasi ini menggambarkan bahwa ilmu filsafat pun sebagai biang dari segala ilmu yang bisa me-logika-kan serpihan-serpihan spiritual yang bertaburan seperti galaxy penghias jagat raya yang begitu sempurna sebagai ciptaan Tuhan. Tiga tiang penyangga filsafat yang acap disebut radikal karena filsafat  akan terus bertanya tentang sebab dan akibat berikutnya, seperti hendak mencecar segala sesuatu sampai ke ujung langit.

Tiang penyangga filsafat berikutnya adalah konstruksi pertanyaan hingga kesimpulan yang sistematik, harus ada alur dan argumen hingga kesimpulan yang dapat diperoleh dari kajian filsafat yang dilakukan. Ada data, ada fakta dan ada kesimpulannya. Identik dengan pemahaman terhadap budaya Barat yang dianggap berjaya bila mengacu pada kemajuan sain dan teknologi modern, jelas karena perspektif pandang dari kejayaan itu bersandar pada alam pikiran dan ilmu pengetahuan yang pada intelektualitas yang abai terhadap spiritualitas. Hingga pemanfaatan hasil teknologi modern justru menggradasi nilai-nilai kemuliaan  manusia untuk menggagahi manusia melalui kekuasaan lewat perang -- yang tak lagi hanya dalam bentuk fisik seperti perseteruan di Timur Tengah -- tapi juga merusak moral dan akhlak melalui berbagai bentuk dan cara penyebaran bakteri, penyakit dan obat terlarang yang terus marak bertebar di pasar gelap Indonesia.

Kejayaan budaya Barat yang ditandai oleh sain dan teknologi modern dengan segala dampak negatifnya, jelas telah membuat kerusakan tata kehidupan di bumi yang sepatutnya harus lebih beradab dan harmoni untuk hidup dan kehidupan bersama, tanpa perlu menyingkirkan atau bahkan lebih birahi untuk memusnahkan manusia dan tata kehidupan yang lain.

Pembiasan dari budaya Barat yang abai terhadap etika dan moral yang dikamuflase dengan cantik dan canggih, adalah  pengkhianatan yang nyata kaum intelektual yang tidak bermoral dan abai pada etika dan akhlak mulia manusia untuk membangun hidup rukun dan damai, tanpa harus mengabaikan atau bahkan menyingkirkan pihak yang juga memiliki hak untuk hidup bahagia di bumi.

Agaknya, begitulah tiang penyangga filsafat berikutnya yang disebut bernilai universal. Sehingga  tikaman bedah pisau filosofisnya yang terbungkus rapi dalam ontologis, epistemologis dan aksiologis, seakan mampu menggagahi spiritualitas yang tetap terpelihara baik dalam diri bangsa Timur. Pendek kata, hasil telaah filsafat harus dan wajib untuk dicerna oleh akal. Sementara spiritualitas, nyaris tidak bisa tersentuh oleh akal. Karena akal dan pikiran manusia sungguh sangat terbatas. Tapi kedalaman hati, jelas  bebas seperti yang  pungguk merindukan rembulan.

Artinya, filsafat sebagai biang dari segala ilmu bisa membuat kesesatan di wilayah ilmiah. Seperti etika yang tidak mampu dipahami bermula dari budaya, tradisi dan adat istiadat, sehingga mampu menampilkan rasa malu, harga diri  serta martabat mulia manusia yang nyaris tidak bersentuhan dengan kecerdasan intelektual yang acap menyesatkan manusia lantaran. tidak mampu membimbing ambisi dan egoisme yang dibiarkan bertumbuh liar di dalam hati -- jiwa -- atau bahkan batin yang tidak bisa dilihat wujud materialnya. Karena itu, spiritualitas dapat segera dipahami memang berkelindan di luar aras material.

Cilegon, 24 April 2026

Post a Comment

أحدث أقدم