/> Dr. Iswadi, M.Pd. Soroti Keseimbangan Kurikulum, Pemanfaatan AI, dan Pemerataan Akses Pendidikan di Daerah 3T

Dr. Iswadi, M.Pd. Soroti Keseimbangan Kurikulum, Pemanfaatan AI, dan Pemerataan Akses Pendidikan di Daerah 3T

 

Dr. Iswadi


Jakarta, newsataloen.com - Akademisi dan pengamat pendidikan, Dr. Iswadi, M.Pd., menegaskan pentingnya menjaga keseimbangan kurikulum, pemanfaatan teknologi kecerdasan buatan (AI), serta pemerataan akses pendidikan, khususnya di wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T). Hal ini disampaikan dalam  menyoroti tantangan dan peluang transformasi sistem pembelajaran di Indonesia, ujar Iswadi, Selasa (14/04) di Jakarta.

Dr. Iswadi, kurikulum yang seimbang harus mampu mengakomodasi kebutuhan akademik, penguatan karakter, serta keterampilan abad ke-21. Ia menilai bahwa selama ini pendekatan kurikulum cenderung terlalu fokus pada aspek kognitif semata, sementara aspek keterampilan praktis dan penguatan nilai-nilai sosial belum mendapatkan porsi yang optimal. Kurikulum ideal adalah yang tidak hanya menghasilkan siswa cerdas secara akademik, tetapi juga adaptif, kreatif, dan berkarakter kuat, ujarnya.

Ia menyoroti peran kecerdasan buatan (AI) dalam dunia pendidikan yang semakin tidak terelakkan. Pemanfaatan AI, menurutnya, dapat menjadi alat strategis untuk meningkatkan kualitas pembelajaran, mulai dari personalisasi materi hingga evaluasi berbasis data. Namun demikian, ia mengingatkan bahwa penggunaan AI harus dilakukan secara bijak dan tidak menggantikan peran guru sebagai fasilitator utama dalam proses pendidikan. AI adalah alat bantu, bukan pengganti. Sentuhan manusia tetap menjadi kunci dalam membentuk karakter dan nilai peserta didik, tambahnya.

Dr. Iswadi juga menekankan bahwa kesenjangan akses pendidikan masih menjadi persoalan besar, terutama di daerah 3T. Ia menyebutkan bahwa keterbatasan infrastruktur, minimnya tenaga pendidik, serta akses teknologi yang belum merata menjadi hambatan utama dalam mewujudkan pendidikan yang inklusif. Dalam konteks ini, ia mendorong adanya kebijakan yang lebih afirmatif dari pemerintah, termasuk pemerataan distribusi guru, peningkatan fasilitas pendidikan, serta penyediaan akses internet yang memadai.

“Transformasi pendidikan tidak boleh hanya dinikmati oleh wilayah perkotaan. Anak-anak di daerah 3T memiliki hak yang sama untuk mendapatkan pendidikan berkualitas. Tanpa pemerataan, kita berisiko memperlebar kesenjangan sosial di masa depan,” tegasnya.

Ia mengusulkan kolaborasi antara pemerintah, sektor swasta, dan masyarakat dalam mempercepat pembangunan pendidikan di wilayah terpencil. Program pelatihan guru berbasis digital, penyediaan perangkat pembelajaran, serta pengembangan platform pendidikan berbasis teknologi dinilai dapat menjadi solusi konkret untuk menjangkau daerah yang sulit diakses secara geografis.

Dr. Iswadi juga menyoroti pentingnya peningkatan kapasitas guru dalam menghadapi era digital. Menurutnya, guru harus dibekali dengan kompetensi teknologi yang memadai agar mampu memanfaatkan AI dan perangkat digital secara efektif dalam proses pembelajaran. Ia menilai bahwa investasi pada peningkatan kualitas guru merupakan langkah strategis yang akan berdampak langsung pada kualitas pendidikan secara keseluruhan.

Di akhir pernyataannya, Dr. Iswadi mengajak seluruh pemangku kepentingan untuk bersama-sama membangun ekosistem pendidikan yang inklusif, adaptif, dan berkelanjutan. Ia optimistis bahwa dengan kebijakan yang tepat dan kolaborasi yang kuat, Indonesia mampu menghadirkan sistem pendidikan yang tidak hanya unggul secara global, tetapi juga merata dan berkeadilan.(rizal jibro).

Post a Comment

Previous Post Next Post