Jakarta, newsataloen.com – Masalah kronis kemacetan dan tingginya angka fatalitas kecelakaan truk kontainer di Jakarta Utara memicu desakan transformasi radikal. Asosiasi Depo Kontainer Indonesia (ASDEKI) resmi meluncurkan visi "Kedaulatan Logistik 2026" untuk membenahi tata ruang penyangga Pelabuhan Tanjung Priok yang dinilai sudah tidak manusiawi.
Ketua Umum DPP ASDEKI, Khairul Mahalli, menyoroti beban sosial yang ditanggung warga akibat lonjakan arus barang yang mencapai 7.000 truk per hari.
"Arus barang meningkat pesat, namun warga di Koja hingga Tugu Utara harus membayar harganya dengan kemacetan dan kecelakaan. Kita tidak boleh mengejar volume komoditas dengan mengorbankan hak hidup warga," tegas Khairul dalam acara talkshow Utalk di Jakarta, Sabtu (7/3/2026).
Sebagai solusi nyata, ASDEKI memperkenalkan Buku Putih: Transformasi Logistik Indonesia 2026. Dokumen ini menargetkan penurunan biaya logistik nasional dari 14,2 persen menjadi di bawah 10 persen terhadap PDB.
Terdapat tiga pilar utama dalam transformasi ini: Pertama, Mengurangi ketergantungan pada jalan raya dengan integrasi jalur kereta api langsung ke depo. Kedua, Implementasi National Logistics Ecosystem (NLE) untuk memangkas waktu layanan depo dari 45 menit menjadi hanya 15 menit. Ketiga Menjadikan IKN sebagai role model depo ramah lingkungan berbasis energi terbarukan
Ketua Pengembangan Mitra DPP ASDEKI, Martin Sembiring, menambahkan bahwa pihaknya tengah menyiapkan standar API Gateway yang menghubungkan sistem depo secara langsung dengan Bea Cukai dan Kemenhub.
"Kami mendorong pemerintah menetapkan depo terintegrasi sebagai Objek Vital Nasional dan memberikan insentif seperti tax holiday bagi investor jalur rel khusus depo," ujar Martin.
Rencana reposisi ini didukung oleh elemen masyarakat. Ketua Aliansi Jakarta Utara Menggugat (AJUM), Anung, menekankan pentingnya kontrol sosial terhadap operator depo nakal. Sementara itu, sosiolog Universitas Nasional, Assoc. Prof. Firdaus Syam, menilai transformasi ini adalah bentuk pengembalian keadilan ruang bagi masyarakat urban yang selama ini terpinggirkan oleh dominasi kendaraan berat.
ASDEKI menargetkan sosialisasi nasional Buku Putih ini tuntas pada Maret 2026, dengan ambisi implementasi penuh pada akhir tahun 2026 demi mengakhiri era jasa logistik murah yang tidak efisien. (MS/ops/red/mi).

Post a Comment