/> Presiden Prabowo Catat Sejarah Swasembada Pangan Indonesia

Presiden Prabowo Catat Sejarah Swasembada Pangan Indonesia

Dr.Iswadi,M.Pd



Jakarta, newsataloen.com- Akademisi dan pengamat kebijakan publik, Dr. Iswadi, menilai capaian swasembada pangan Indonesia di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto sebagai sebuah prestasi yang sangat cepat, strategis, dan bersejarah. Menurutnya, keberhasilan ini menjadi tonggak penting dalam perjalanan panjang Indonesia menuju kemandirian pangan nasional, Ungkap Iswadi,di Jakarta, Jum'at (09/01) kepada Media ini.

Dr. Iswadi menyebut, sejak awal pemerintahan Presiden Prabowo, agenda swasembada pangan ditempatkan sebagai prioritas utama pembangunan nasional. Presiden secara langsung mengonsolidasikan berbagai kementerian dan lembaga, khususnya Kementerian Pertanian, dengan dukungan lintas sektor termasuk TNI dan Polri, untuk memastikan program peningkatan produksi pangan berjalan secara terkoordinasi dan masif.

Langkah Presiden Prabowo sangat tegas dan sistematis. Beliau tidak hanya membuat target, tetapi juga mengawal pelaksanaannya di lapangan. Inilah yang membuat capaian swasembada pangan bisa terwujud jauh lebih cepat dari perkiraan, ujar Dr. Iswadi.

Capaian tersebut menjadi luar biasa karena Indonesia mampu mendekati, bahkan mencapai, kondisi swasembada pangan hanya dalam kurun waktu satu tahun. Padahal, target awal yang dicanangkan Presiden Prabowo adalah empat tahun. Percepatan ini dinilai sebagai bukti efektivitas kebijakan, kepemimpinan yang kuat, serta sinergi antarinstansi negara.

Dr. Iswadi menekankan bahwa swasembada pangan bukan sekadar soal meningkatkan angka produksi, melainkan menyangkut kedaulatan bangsa. Untuk pertama kalinya dalam sejarah modern Indonesia, negara dinilai mampu berdiri di atas kaki sendiri dalam memenuhi kebutuhan pangan utama rakyatnya tanpa ketergantungan signifikan pada impor.Swasembada pangan adalah simbol kemandirian nasional. Ketika pangan bisa dipenuhi dari dalam negeri, maka posisi Indonesia dalam percaturan global menjadi jauh lebih kuat, katanya.

Ia menjelaskan bahwa secara konseptual, swasembada pangan merupakan kondisi di mana suatu negara atau wilayah mampu memproduksi seluruh kebutuhan pangan penduduknya secara mandiri. Ketergantungan pada impor pangan, menurutnya, mengandung risiko besar, terutama ketika terjadi krisis global, konflik geopolitik, perubahan iklim ekstrem, atau gangguan rantai pasok internasional.

Dr. Iswadi mengingatkan bahwa sejarah menunjukkan pangan memiliki kaitan erat dengan stabilitas sosial dan politik. Kelangkaan pangan dan lonjakan harga bahan pokok sering kali menjadi pemicu keresahan sosial, protes massal, hingga instabilitas politik di berbagai negara.

Oleh karena itu, swasembada pangan bukan hanya isu ekonomi atau pertanian, tetapi juga isu keamanan nasional. Negara yang tidak mampu menjamin pangan rakyatnya berada dalam posisi yang sangat rentan, jelasnya.

Dari sisi sosial ekonomi, swasembada pangan juga membawa dampak positif bagi kesejahteraan petani lokal. Peningkatan produksi dalam negeri mendorong penyerapan tenaga kerja di sektor pertanian, memperbaiki pendapatan petani, serta menghidupkan ekonomi pedesaan. Menurut Dr. Iswadi, keberpihakan pemerintah terhadap petani menjadi salah satu kunci keberhasilan program ini.

Ketika petani diberi kepastian pasar, dukungan sarana produksi, infrastruktur irigasi, serta perlindungan harga, maka mereka akan menjadi tulang punggung ketahanan pangan nasional, ujarnya.Dr. Iswadi juga menyoroti capaian produksi beras nasional yang dinilai sangat signifikan. Ia menyebut, Indonesia saat ini telah mencapai swasembada beras dengan produksi nasional yang diproyeksikan menembus 34,77 juta ton gabah kering giling (GKG) pada akhir 2025. Jumlah tersebut dinilai mencukupi untuk memenuhi kebutuhan sekitar 286 juta penduduk Indonesia.

Menurutnya, angka ini menunjukkan bahwa kebijakan pangan nasional mulai bergerak ke arah yang lebih berkelanjutan. Namun demikian, ia mengingatkan bahwa tantangan ke depan tetap besar, terutama terkait perubahan iklim, alih fungsi lahan, dan modernisasi sektor pertanian. (rel/rizal jibro)

Post a Comment

أحدث أقدم