Takengon, Aceh Tengah, newsataloen.com – Kabupaten Aceh Tengah tidak hanya menawarkan hawa sejuk pegunungan, tetapi juga menyimpan pesona "Jeneva Lake" versi Indonesia. Danau Laut Tawar, atau yang akrab disapa Lot Tawar oleh masyarakat suku Gayo, kini menjadi sorotan karena potensinya yang setara dengan keindahan danau di Swiss.
Terbentang dari wilayah Bintang hingga ke Singah Mata, Danau Laut Tawar dikelilingi perbukitan hijau yang membujur indah. Kawasan ini bukan sekadar pemandangan alam; ia adalah sumber kehidupan dan rumah bagi legenda sejarah yang penuh misteri.
Kekayaan Alam dan Ekonomi Gayo
Bagi masyarakat setempat, danau ini adalah urat nadi ekonomi. Ikan Depik, spesies unik yang hanya ada di perairan ini, telah menjadi tumpuan hidup warga untuk menyekolahkan anak-anak mereka hingga ke perguruan tinggi.
Tak hanya danau, Tanah Gayo juga dikenal dengan komoditi ekspor unggulannya. Pinus yang menjulang, serta kopi dan tembakau Gayo, kualitasnya telah diakui dunia bahkan mampu bersaing ketat dengan kopi asal Brasil di pasar internasional.
Legenda Romantis: Dari Malim Dewa hingga Peteri Ijo
Keindahan Laut Tawar semakin lengkap dengan balutan kisah romantis dan mistis. Jejak sejarah cinta Malim Dewa dan Putri Bensu, hingga misteri Peteri Ijo dan legenda Puteri Pukes, menjadi daya tarik budaya yang kuat bagi wisatawan yang haus akan cerita rakyat.
Bahkan, sisi romantis Laut Tawar sering dituangkan dalam lirik kesenian Didong Gayo. Salah satu kutipan syair karya Mariam Kobat berbunyi: "Engonko so tanoh Gayo, si megah mureta delé..." (Tataplah tanah Gayo yang megah kaya raya...), sebuah ajakan untuk mensyukuri rahmat Tuhan atas alam Gayo yang luar biasa.
Tantangan Menuju Destinasi Internasional
Secara visual, Danau Laut Tawar memiliki kemiripan dengan Geneva Lake di Swiss yang dilingkari Pegunungan Alps dan Jura. Namun, untuk mencapai level destinasi internasional tersebut, diperlukan sentuhan tangan dingin dari pemerintah daerah.
Wacana untuk menata kawasan dari Mendale hingga ke Sungai Peusangan dengan arsitektur khas Gayo mulai mengemuka. Pertanyaannya, mampukah Pemerintah Aceh bersama Pemkab Aceh Tengah dan Bener Meriah berkolaborasi menyulap kawasan ini?
Jika gubuk-gubuk di sepanjang tepian danau dapat ditata menjadi taman bunga dengan pencahayaan yang artistik, bukan tidak mungkin Takengon akan menjadi kota turis utama di Indonesia selain Bali. Masyarakat Indonesia dan Asia nantinya tidak perlu jauh-jauh ke Swiss untuk menikmati pemandangan danau pegunungan; cukup berkunjung ke Tanah Gayo.
Kini, impian menjadikan Takengon sebagai pusat pariwisata dunia berada di tangan para pemangku kebijakan untuk melindungi, menjaga, dan membangun martabat Danau Laut Tawar sebagai warisan alam yang mendunia. (Usman Cut Raja)

إرسال تعليق